Buku Suatu Saat Dunia Tinggal Kenangan Akhirat Jadi Kenyataan | Buku Pengabdian Kepada Masyarakat | Buku Renungan

Rustam Ramadji Karim, S.Pd.,M.Pd

Suatu Saat Nanti...

Dunia Tinggal Kenangan

Akhirat Jadi Kenyataan

“Dalil dan gaya bahasa dari berbagai

sumber referensi  sebagai Renungan filosofi

dan Pembelajaran Manusia di muka Bumi”

PERMATA ILMU PALU

ISBN: 978-602-60813-3-9

Tlp/Hp. 085240364369.E-mail; rustam.karim1965@gmail.com



KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Allah Swt atas segala nikmat dan kaunia sehingga buku yang berjudul “Suatu Saat Nanti Dunia Tinggal Kenangan Akhirat Jadi Kenyataan (Sebuah Filosofi Renungan Manusia) selesai tepat pada waktunya. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah keharibaan Nabi Muhammad Saw, keluarga, Sahabat serta pengikut yang setia hingga Yaumil akhir.

Selanjutnya buku ini menjadi aspirasi penulis untuk ditulis dan diterbitkan disebabkan oleh fenomena  yang terjadi di tengah-tengah  ummat yang  jauh dari upaya secara sungguh-sungguh mempersiapkan diri perkara iman dan amal sholeh. Bahkan, kemungkinan jutaan manusia yang belum mengetahui dan menyadari dari mana asal-usul sehingga dilahirkan (diutus) Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang (Allah Swt) sebagai khalifah yang akan kembali mempertanggungjawabkan amal perbuatannya selama hidup di permukaan bumi. Selain  itu, buku ini sebagai pertanggungjawaban penulis kelak di hadapan Allah Swt, bahwa telah turut serta menyebarkan wasiat suci Firman Tuhan kepada seluruh ummat manusia melalui media sosial (online), dengan tampilan dalil data terjemahan Surah dalam Al-Qur’an, arti Hadits, tanpa teks asli dalil Al-Qur’an (naskh Arab) berdasarkan kompetensi penulis.

Akhirnya kepada pembaca yang budiman, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk perbaikan edisi  revisi selanjutnya.

 Semoga bermanfaat. Amin.

BAB I

ARSY  MAHLUK  PERTAMA  YANG  DICIPTAKAN  ALLAH   SWT

           Ruqoyyah.Com dalam pemaparannya bahwa Muhammad Abduh Tuasikal (2020) menerangkan tentang mahluk yang pertama sekali  diciptakan oleh Allah Swt adalah “Arsy” atau dapat disamakan dengan Kursi Singgasana Allah Swt-Tuhan Maha Pencipta yang termegah, teragung dan terbesar dari semua mahluknya. Riwayat lain dituliskan pula yang bersumber; “Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash,Ra, bahwa Rasulullah Saw telah bersabda: “Allah telah mencatat, menuliskan takdir (ketentuan) semua mahlukNya 50.000 tahun sebelum Allah Swt menciptakan langit-langit dan bumi, dan Arsy Allah sudah berada di atas air”(HR.Muslim.No.4797). Pada hadits yang lain disebutkan pula bahwa: “Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah arsy, air dan angina) adalah qalam (pena) kemudian Allah berfirman;”Tulislah!”. Kemudian pena berkata; ‘Apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman; “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.”(HR.Tirmidzi,No.2155). Hadits ini menunjukkan bahwa penulisan takdir terjadi setelah penciptaan arsy. Oleh karena itu, proses penciptaan arsy terlebih dahulu dari pada penciptaan qalam yang digunakan untuk menulis takdir manusia. Dalil sebagai firman Allah Swt yang menunjukkan bahwa mahluk pertama adalah arsy termaktub dalam Al-Qur’an  sebagai berikut: “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arsy-Nya (sebelum itu) di atas air (Q.S.Hud:7).

          Selanjutnya Nashih Nashrullah; red.Republika.Co.ID.(2020) bahwa kebenaran, kesempurnaan penciptaan alam semesta telah lama dipelajari dan diketahui melalui pengamatan research oleh para ilmuan ruang angkasa sejak zaman Yunani, Romawi serta filosof-filosof Islam pada Dinasty Umayyah di Damaskus, Toledo-Spanyol, dan Abbasiyah di Bagdad dengan rentang waktu abad 8-15 Masehi. Selanjutnya beberapa ilmuan seperti; Immanuel Kant dari Jerman (1755),  Piere de Laplace  dari Perancis (1796), kemudian bermunculan pemikir-pemikir  ilmuan lainnya seperti; Newton, Chamberlain, Moulton, Jeans dan Jeffries, Suess dan Wiechert, serta Albert Einstein, dan lainnya. Adakah hipotesis mereka terhadap umur bumi secara rasional, walaupun telah banyak tulisan yang memperkirakan sekitar 4,5 milyard tahun, alam semesta sekitar 15 milyard tahun dibandingkan dengan umur manusia sejak Adam,As diciptakan. Sebagai bahan renungan dapat dilihat pada dalil terjemah dalam Al-Quran antara lain; “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi; “Datanglah kamu keduanya menurut perintahku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab; “Kami datang dengan suka hati (Q.S. Fusshilat:11).

          Walaupun demikian  Rahman, Fazlur (1996) dalil yang outentik dari Kitab suci, para orientalis, sejarahan dan ilmuan lainnya masih beranggapan bahwa alam semesta terjadi dengan sendirinya. Hal diberitakan oleh Allah Swt terhadap pemikiran orang-orang yang tidak percaya dan meyakini bahwa segala sesuatu di permukaan bumi (dunia ini) pasti dan pasti ada yang menciptakan. Bagaimana  pengetahuan kemahakuasaan Allah Swt mengetahui kaum Orientalis sebagaimana dalam Al-Qur’an” “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”(Q.S.Al-Anbiya:30). Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa proses penciptaan langit dan bumi dalam enam periode, antara lain sebagai berikut:

“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari.”(Q.S Hud:7). Pada ayat yang lain dapat dilihat antara lain “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dengan bermain-main (Q.S.Al-Anbiya:16).

          Berdasarkan dalil Al-Qur’an bahwa seluruh mahluk, alam semesta; langit dan bumi tidak terjadi dengan sendirinya; atau seperti; teori Darwin yang mengaggap bahwa manusia dari kera (naudzubillah,... tsumma naudzubiullah). Semua bergerak; rotasi, tetapi berdasarkan ketentuan dan ketetapan dan pengawasan dari  Allah Swt. Namun, apabila manusia ingin lari dari kodrat ketetapan Tuhan...? Allah Swt akan memerintahkan agar siklus-rotasi menyimpang dari ketetapan....apa yang timbul?...malapetaka....Hal ini dapoat dibuktikan dengan; (1) pergeseran lempeng/kerak bumi, (2) gunung meletus, (3) banjir bandang, (4) Tsunami, (5) likwifaksi, (6) Jangan berzina karena menimbulkan AIDS), (7) jauhi perbuatan yang melanggar kodrat/fitrah ketentuan (bagi yang beragama Tauhid-Islam) yang diharamkan; binatang buas, dan lainnya karena setiap larangan agama Tauhid selalu mengandung hikmah di dalamnya setelah mengalami fenomena (hakikatul ma’rifatullah).

            Selanjutnya bagaimana proses penciptaan langit? Ahmad Zain an-Najah (dalam Hidayatullah. Com, 2023 M/1444 H)Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa setelah Arsy Allah Swt telah terletak di atas samudera (Air) sebelum ada mahluk lainnya, lalu Allah Swt mengeluarkan kabut (asap) yang membumbung tinggi ke atas angkasa, kemuadia air yang dibawahnya mongering menjadi hamparan bumi yang selama 2 hari (Ahad dan Senin). Mulanya terjadi getaran dan goncangan seluruh permukaan bumi yang sedang dan telah selesaai diciptakan, namun Allah Swt segera menancapkan gunung-gunung, sebagaimana Firman Allah Swt: “ Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk”(Q.S An-Nahl:15). Kemudian terciptalah semua fasilitas yang dibutuhkan manusia sebagaimana Firman Allah Swt; “Katakanlah: “Sesungguhnya patutkan kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu baginya ? (yang bersifat) Demikian itu adalah Rab semesta alam, dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa (penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya”(Q.S.Fushilat:9-10). Kemudian Allah Swt memisahkan 7 lapisan langit selama 2 hari (kamis dan Jum’at).

            Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa lapisan langit pertama luasnya 10 kali luas dunia ini. Demikian pula langit ke-2, 3,4, dan langit ke-7. Kemungkinan langit pertama dihuni manusia, dan langit ke-2 dihuni Jin (wallahu’alam) hanya saja dimensi antara langit pertama dan langit lainnya berbeda-beda sehingga tidak saling melihat dan merasakan secara langsung. Ketujuh lapis langit tersebut  dihiasi oleh Allah Swt dengan berbagai alat penerang seperti; matahari dan bulan, serta bintang-bintang. Firman Allah Swt tentang jumlah lapisan langit dan bumi antara lain; “ Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi (Q.S.Thalaq: 12).

          Mengapa ummat manusia tidak memikirkan bagaimana pesawat terbang dapat mengangkasa jika tidak dikontrol dengan rahmat (rahman & Rahim) dari Sang Maha Pencipta Allah Swt. Seandainya pesawat terbang mengangkasa berdasarkan rasional dan logika semata-mata dengan kekuatan mesin tanpa adanya campur tangan kekuasaan yang maha ghaib; Allah Swt, tentunya tidak akan dapat terbang. Tujuan Allah swt memberi kekuasaan terbatas kepada manusia untuk eksistensi di muka bumi adalah agar manusia dapat mensyukuri serta mengakui keberadaan dan kekuasaan Allah Swt. Agar manusia dapat merenung, berpikir terhadap adanya kekuatan yang Maha Besar.

 

BAB II

PROSES PENCIPTAAN MANUSIA

 

Berkaitan dengan proses penciptaan manusia dinyatakan bahwa Allah Swt memberikan bimbingannya dalam al-Qur‟an terhadap manusia untuk memahami ayat-ayat yang menggambarkan alam semesta dan melukiskan sebuah fenomenafenomena ilmiah yang terjadi di dalamnya, salah satunya adalah tentang asal mula manusia.

Dalam Al-Qur‟an surat Yunus ayat 101 terdapat lafadz undzuru yang berarti periksalah dengan nadzor. Kalau diamati dengan baik maksud Allah bukanlah hanya melihat akan tetapi memperhatikan akan kekuasaan dan kebesaran Alla Swt serta mengungkap makna dari fenomena yang terjadi.

Pertanyaan tentang kapankah kehidupan di bumi ini mulai ada telah dijawab dengan tegas oleh al-Quran. Al-Quran menjelaskan bahwa kehidupan bermula saat alam semesta tercipta. Manusia sebagai salah satu spesies makhluk biologis, asal-usulnya berasal dari tanah.

Dalam Qs Nuh/70:16 juga mengisyaratkan bahwa perkembangan kejadian dan proses penciptaan manusia melalui jalur bertahap dan evolutif. Perkembangan evolusi itu mulai dari tingkat yang sederhana menuju arah kesempurnaan. Berkaitan dengan penciptaan sangat  jelas bahwa Allah Swt adalah pencipta manusia melalui berbagai proses mutasi yang disebut Al-Quran sebagai sunnatullah (Qs Al-Rum/30:30). Perempuan dan laki-laki  dalam Al-Quran bersumber dari unsur yang sama dan dalam mekanisme yang sama. Tidak terdapat perbedaan secara substansial dan secara struktural antara keduanya. Dengan demikian, secara alamiah dalam proses keberedaan laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan. Dalam penciptaan makhluk, termasuk di dalamnya manusia beberapa ayat menjelaskan peranan tanah liat, di samping peranan air. Seperti yang kita temukan dalam QS. al-An‟am/6: 2, QS. al-Hijr/15: 26, QS. al-Mu‟min/40: 12, dan QS. as-Shaffat/37: 11.

Pada masa Plato dan Aristoteles, para filosof  pro-kontra tentang teori terciptanya embrio. Teori pertama, percaya bahwa embrio manusia berbentuk manusia mikro dan tertanan di sperma laki-laki. Teori kedua, juga tidak ada bedanya dengan yang pertama, kecuali bahwa embrio yang berbentuk manusia mini itu tertanam dalam rahim wanita dan terbentuk dari darah menstruasi. Teori tentang proses reproduksi manusia sebenarnya sudah di jelaskan dalam berbagai surat ratusan tahun sebelumnya. Ayat ke-2 surat al-Insan mengindikasikan adanya campuran antara unsur yang datang dari laki-laki dan wanita dalam pembentukan embrio. Sebagai renungan bahwa al-Quran menyatakan secara jelas tentang kemampuan sperma untuk membuahi, serta  tidak bergantung pada volume cairan yang disemburkan. Gagasan bahwa sejumlah sangat kecil cairan sebagai sepenuhnya bersifat efektif tidak segera tampak nyata.

Lebih dari seribu tahun sebelum kemajuan spermatozoa ditemukan di awal abad 17 al-Quran mengungkapkan gagasan-gagasan yang terbukti benar berdasarkan penemuan identitas unsur pembuah yang diukur dalam satuan perseribu milimeter. Spermatozoa-lah yang terdapat di dalam cairan benih yang mengandung pita DNA. Berdasarkan nalar dari (Qs 80: 19) terdapat fakta bahwa warisan genetik yang diterima dari ayahlah yang menentukan jenis kelamin sesorang.

Manusia modern kurang menyadari bahwa penciptaan manusia dari aspek mukjizat  telah ditekankan di dalam banyak ayat. Sebagian ayat sangat mendetail  bagi seseorang yang hidup di abad yang lalu untuk belum  mengetahuinya. Dari sebagian ayat dinyatakan bahwa manusia tercipta dari keseluruhan mani, tetapi hanya sebagian manusia yang mempelajarinya. Namun bagi ilmuan dapat mengetahui bahwa laki-lakilah yang menentukan jenis bayi. Embrio manusia melekat pada uterus ibunya seperti lintah serta embrio berkembangan di tiga daerah gelap di dalam uterus.

Cairan-cairan yang bercampur yang dirujuk al-Quran hanya bagi cairan sperma yang kompleksitasnya demikian terpaparkan. Al-Quran juga menjelaskan kepada kita bahwa unsur pembuah pria berasal dari cairan sperma. Penanaman sel telur yang telah dibuahi di dalam rahim disebutkan dalam banyak ayat al-Quran yang dalam hal ini menggunakan kata „Alaqah (sesuatu yang bergantung).

Sebuah Riset  ilmiah yang mengejutkan bahwa pada abad ke-20 pancaran mani yang berasal dan menyembur dari alat kelamin laki-laki mengandung sekitar 200 juta benih manusia sedangkan yang berhasil bertemu dengan ovum hanya satu saja. Demikianlah yang dimaksud al-Quran dengan nutfatan min maniyyiin yumna (nutfah dari mani yang memancar). Pada saat sperma pria bergabung dengan sel telur wanita, intisari bayi yang akan lahir terbentuk. Sel tunggal yang dikenal sebagai “zigot” dalam ilmu biologi akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi “segumpal daging”. Suatu keajaiban (mukjizat) dari al-Quran terungkap. Selanjutnya merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah menggunakan kata „Alaq dalam Qs al-Alaq/96: 1-3.  Merupakan suatu fakta yang  rasional bahwa sel telur yang dibuahi tertanam dalam lendir rahim kira-kira pada hari keenam setelah proses pembuahan. Proses anatomis  telur tersebut merupakan sesuatu yang bergantung pada iradah (kehendak Pencipta). Selanjutnya idea tentang kebergantungan mengacu  dari pendalaman kata ‘Alaq.

Daging yang digulung-gulung (sesuatu yang bergantung) terus tampak sampai kira-kira hari kedua puluh ketika secara bertahap mengambil bentuk manusia. Jaringan-jaringan tulang belulang mulai tampak dalam embrio yang secara berturutan diliputi oleh otot-otot.

Dua tipe daging yang diberi nama berbeda di dalam al-Quran, yang pertama “daging yang digulung-gulung” disebut sebagai mudraj, sedang yang kedua “daging yang masih utuh” ditunjukkan oleh kata Lahm yang memang menguaraikan secara cermat dan rasional  bagaimana rupa otot itu.al-Quran juga menyebutkan munculnya indera-indera dan bagian-bagian dalam tubuh.

Segumpal daging yang diterangkan dalam Qs al-Hajj/22: 5 dibahasakan dengan mudghah. Embrio berubah bentuk dari tahapan „alaqah ke permulaan tahapan mudghah pada hari ke 24 atau 26. Waktunya relatif lebih cepat ketimbang perubahan dari tahap nutfah ke ‘alaqah.

Penunjukkan kepada al-Quran kepada organ-organ seksual mesti diperhatikan. Karena perujukan olehnya sungguh sangat tepat. Unsur pembuah pria, yaitu spermatozoa mengandung hemicrosom yang menentukan jenis kelamin calon manusia itu. Aspek penting lain tentang informasi yang disebutkan dalam ayat-ayat alQuran adalah tahap-tahap pembentukan manusia dalam rahim ibu. Disebutkan dalam Qs al-Mu‟minun/23:14, bahwa dalam rahim ibu, tulang-tulang terbentuk lebih dahulu, kemudian terbentuklah otot-otot yang membungkus tulang-tulang ini. Penelitian dithingkat mikroskopis menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu terjadi dengan cara seperti yang digambarkan dalam Qs al-Mu‟minun/23:14.

Dalam al-Quran dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan dalam rahim ibunya. Fase-fasenya mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan bayi. Secara ringkas, ciri-ciri utama tahap perkembangan tersebut adalah sebagai berikut: (1) Tahap Pra-embrionik. Pada tahap pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan terbentuklah segumpulan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin besar sel-sel penyusunnya pun mengatur diri sendiri guna membentuk tiga lapisan. (2) Tahap Embrionik. Tahap kedua berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini bayi disebut sebagai embrio.pada tahap ini organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan-lapisan sel tersebut. (3) Tahap Fetus. Tahap ini dimulai sejak kehamilan minggu kedelapan hingga masa kelahiran. Ciri khusus tahapan ini adalah bahwa fetus sudah menyerupai manusia, dengan wajah da kedua tangan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang hanya 3 cm, kesemua organnya sudah jelas. Tahap ini berlangsung kurang lebih selama 30 minggu, dan perkembangan berlanjut sampai minggu kelahiran.

Berkaitan dengan tahapan penciptaan manusia, kita juga dapat menilik QS As-Sajdah/32:7, QS Nuh/71:14, QS al-Infithar/82:7-8 sebagai informasi yang membuktikan bahwa penciptaan manusia dilakukan dengan bertahap-tahap. Apa yang disebut Darwin sebagai seleksi alam memanglah seleksi alami dalam pengertian bahwa Allah Tuhan semesta alamlah yang mengatur seleksi itu sebagai bagian dari proses penyempurnaan, proses penyelarasan terhadap keadaan lingkungan dan proses perakitan dalam bentuk yang diberikan-Nya kepada manusia untuk menjadi khalifah-Nya di bumi. Para mufassirin tekstual percaya bahwa Allah Swt  menciptakan makhluk hidup satu demi satu, spesies demi spesies. Tetapi sebaliknya para mufassirin kontekstual yakin bahwa makhluk hidup diciptakan secara evolusi tahap demi tahap. Bertentangan dengan pendapat pada umumnya dianut oleh mufassirin kontekstual yang mengatakan bahwa makhluk hidup pertama diciptakan di bumi, maka mufassirin kontekstual berpendapat bahwa makhluk hidup pertama adalah dalam air.

Perbedaan penggunaan kata Turab dan Thin dalam al-Quran saat  menceritakan tentang penciptaan manusia memiliki maksud tersendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam Qs Ali Imran/3: 59 yang membahas Adam As dengan menggunakan kata turab, sedangkan ayat al-Quran yang berisi kata thin yakni dalam Qs al-An‟am/6:2 menguraikan Adam,As dan manusia sebagai anak cucunya. Di sini terdapat kesinambungan bahwa turab berarti tanah, dan thin berarti tanah yang sudah dicampur air. Hal ini berarti bahwa thin merupakan lanjutan dari tanah.

Dalam al-Quran disebutkan bahwa dari thin itulah penciptaan kemudian bercabang dua. Dari thin itu dibuat thin lazib (QS. al-Shaffat/37: 11) yang merupakan proses lanjutan dari penciptaan Adam. Dari thin pula diciptakan nuthfah (QS. al-Mu‟minun/23:12-14).

Dalam al-Quran kata shalshal diulang tiga kali yang semuanya ditemukan dalam Qs al-Hijr/15:26.28,33. Mula-mula Allah Swt menyatakan kepada Nabi Muhammad Saw bahwa manusia diciptakan dari salsal, kemudian menceritakan bagaimana Dia mengemukakan kepada malaikat tentang rencana-Nya untuk menciptakan makhluk itu, dan pada ayat ketiga Allah Swt mengisahkan pembangkangan Iblis yang menolak sujud kepadaNya. Jelaslah bahwa konteks ketiga ayat tersebut berbeda, walaupun menceritakan hal yang sama. Pesan ketiga ayat   yang dimaksudkan  adalah penciptaan Adam,As.

Demikianlah proses penciptaan Adam,As. Mengenai penciptaan manusia sebagai anak cucu Adam ditemukan informasinya dalam Qs al-Sajadah/32:8, bahwa ia diciptakan dari ma’mahin yang telah disebutkan sebelumnya Penciptaan manusia secara umum melalui proses yang melibatkan Tuhan dan Manusia, yaitu ibu dan bapak, sedangkan dalam penciptaan Adam As tidak melibatkan pihak lain. Awalnya mani atau sperma pria ditumpah dan dipancarkan kedalam rahim (yumna). Kata yumna, dalam bahasa Arab berarti ditakdirkan dan disaring. Maksudnya adalah bahwa air itu sudah disaring dan diolah begitu rupa sehingga dapat difungsikan untuk  fungsinya.

Jika diperhatikan, nampaknya al-Quran menggunakan 12 istilah yang dapat dianggap sebagai substansi kejadian manusia seperti yang telah dipaparkan di atas. Berdasarkan ayat-ayat Al-Quran yang mengemukakan tentang penciptaan manusia kesemuanya tidak dapat dipisahkan dari air, karena manusia adalah bagian dari makhluk hidup dan seluruh organisme makhluk hidup, termasuk dunia flora dan fauna, berasal dari air. Manusia yang berakal tentu mengetahui substansi dasar kelahiran yang berhubungan dengan mani laki-laki yang dipancarkan selama berhubungan seksual. Fakta bayi dilahirkan setelah sembilan bulan jelas merupakan kejadian yang dapat diamati dan tidak memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Tetapi informasi akan manusia yang diciptakan dari mani, lelaki yang menentukan jenis kelamin, embrio melekat pada uterus ibunya seperti lintah diperkuat oleh ilmu pengetahuan abad ke20.

Asal-usul manusia yang bersifat lebih substansial, seperti nyawa atau roh,  diuraikan secara terperinci dalam A-Quran. Roh manusia adalah urusan Tuhan, sebagaimana diisyaratkan dalam satu ayat pendek dalam Qs al-Isra/17: 85.

Banyaknya ungkapan  memperjelas proses dalam penciptaan. Pengulangan kata dan kisah dalam al-Quran ternyata tidaklah membosankan, melainkan memberikan kelengkapan dan nuansa yang dinamis, rasional dan masuk akal. Hanya manusialah yang berkeinginan untuk mengakali dengan berbagai alasan yang kurang rasional karena kecenderungan pada temuan ilmu pengetahuan saja. Walaupun banyka hal yang terbatas dijangkau oleh ilmu pengetahuan sesuai kemampuan nalar otak manusia.

Selanjutnya manusia menjalani pertumbuhan dan perkembangan mulai fase bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua dan menjalani kematian. Pada saat remaja dimulailah proses kolaborasi dan kontaminasi berbagai pengaruh peradaban keluarga, suku, bangsa, RAS, golongan, pekerjaan, penghidupan yang layak, hingga memiliki prestasi di bidang tertentu, serta prestise. Manusia mulai secara perlahan-lahan melupakan asal-usulnya, latar belakang keturunannya, ayah ibunya, keluarganya yang masa lalu, bahkan agama yang pernah dipelajari dan diamalkannya pada saat di SD, SMP, Madrasah, masjid yang selalu didatanginya, serta berbagai pengajian saat fase remaja masjid. Perkara inilah yang paling ditakuti Nabi Muhammad Saw pada saat seseorang didatangi kemewahan dunia (harta,tahta, dan wanita).

Demikian rotasi hidup manusia di muka bumi, ada yang sengsara-menderita-serbakekurangan dalam berbagai hal;kebutuhan, hidup menengah dan mencukupi, kaya-raya dan berfoya-foya, semuanya dapat digolongkan pada; golongan beriman, golongan tidak  beriman dan golongan ingkar. Maulana Ilyas (1350 H) Perkara mentaati perintah Allah Swt adalah persoalan karunia dan hidayah serta petunjuk dari Allah Swt, bukan keinginan dan kemauan pribadi seseorang.

 

BAB III

FASE PERJALANAN HIDUP MANUSIA DI MUKA BUMI

 

Alam jagat raya beserta isinya merupakan suatu sistem yang bersatu di bawah naungan perintah Tuhan. Semua yang ada dalam sistem ini diciptakan untuk kepentingan manusia. Suatu anugerah yang selalu dibarengi dengan peringatan spiritual agar manusia tidak menyekutukan Allah Swt dengan yang lain. Peruntukan bumi bagi manusia mengandung pengertian bahwa bumi ini tidak hanya disediakan untuk satu generasi belaka, melainkan untuk semua generasi yang ada di bumi. Allah Swt telah meninggikan derajat manusia di atas ciptaan-Nya yang lain. Hal ini, karena Allah Swt menganugerahkan akal kepada manusia, suatu media  untuk bernalar dan memperoleh ilmu pengetahuan dan kecakapan teknologi.

Manusia telah mengalami perkembangan dan pertumbuhan sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan manusia di muka bumi ini. Melalui kesempurnaan struktur otaknya manusia mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan hidupnya, bahkan mereka mampu menantang masalah-masalah yang mereka hadapi. Selain dari itu, kelebihan kemampuan manusia telah menjadikan mereka mampu menggali kekayaan bumi ini bagi kemudahan hidupnya.

Endang Saifudin Anshari (1983) mengatakan  bahwa manusia adalah hewan yang berfikir. Berfikir adalah bernalar. Bernalar adalah mencari jawaban. Mencari jawaban adalah mencari kebenaran. Mencari jawaban tentang Maha Pencipta, alam dan manusia, serta lingkungan. Mencari kebenaran tentang Tuhan-Allah, alam, dan manusia. Jadi pada akhirnya: manusia adalah makhluk pencari kebenaran.

Manusia merupakan makhluk  yang berakal berakal. Akal dalam pandangan Islam, bukanlah otak akan tetapi daya pemikiran yang terdapat dalam jiwa manusia. Akal sendiri merupakan gabungan dari beberapa komponen yakni pikiran, perasaan dan kemauan.  T.M Utsman El Muhammady mengemukakan bahwa apabila gabungan dari ketiganya tidak ada maka tiada akal. Akal adalah alat yang menjadikan manusia dapat melakukan pemilihan alternatif antara yang benar dan salah. Manusia sebagai khalifah (wakil Tuhan), untuk melaksanakan segala yang diridhai Allah di atas bumi ini, untuk mengkulturkan natural dan dalam waktu yang sama untuk mengislamkan kultur. Kemudian manusia dilengkapi Allah dengan berbagai macam hidayat (insthing, indra, akal, Agama, dan hidayat taufiq).

Kelebihan manusia dengan berbagai macam hidayah menyebabkan manusia berada dalam sebuah perjuangan moral yang tidak  berkesudahan. Di dalam perjuangan ini Allah senantiasa memberi petunjuk dan jalan kemudahan yang diperlukan manusia. Oleh karena itu, manusia harus beriktiar, menjalankan perintah berdasarkan ketetapan jalan-jalan kemanusiaan, memiliki kebebasan berkehendak tetapi sesuai dengan poedoman kitab suci yang diturunkan Allah melalui Nabi dan RasulNya sebagai khalifah Allah di atas bumi. Misi tersebut akan menciptakan sebuah tata sosial yang bermoral di atas dunia yang dikatakan al-Quran sebagai “amanah” dalam surat al-Ahzab/33: 72.

Firdaus, Slamet (2011) Al-Quran menyatakan bahwa kelemahan manusia yang paling mendasar dan yang menyebabkan banyaknya dosa-dosa besarnya adalah faktor keserakahan dan kerakusan terhadap hak-hak orang lain (material) dan “kesempitan fikiran.” Manusia mempunyai sifat yang goyah yakni bersifat keluh kesah lagi kikir. Jika mendapatkan kemalangan atau keburukan ia pun berkeluh kesah tetapi jika mendapatkan kesenangan atau kebaikan ia berusaha agar kebaikan itu tidak sampai kepada orang-orang lain (Qs al-Ma‟arij: 19-21).

Al-Quran mengutamakan tiga macam pengetahuan untuk manusia.  Pertama adalah pengetahuan mengenai alam yang telah dibuat oleh Allah Swt untuk  melayani kebutuhan  manusia, atau sains-sains alamiah. Kedua adalah pengetahuan sejarah dan geografi: al-Quran senantiasa mendesak manusia untuk berjalan di muka bumi sehingga dapat menyaksikan apa hikmah manusia pada masa lampau dan mengapa demikian dapat bangkit dan runtuh. Ketiga adalah pengetahuan tentang dirinya sendiri karena “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di dalam cakrawala (alam eksternal) dan di dalam diri mereka sendiri sehingga mereka dapat memahami kebenaran. Pernyataan di atas, menjelaskan bahwa untuk tugas manusia sebagai khalifah, manusia dianugerahi akal yang dapat digunakan untuk berfikir, memiliki potensi ilmiah, secara fitrah manusia diciptakan cenderung pada kebenaran (hanif), dan terdapat unsur-unsur Ilahi dalam dirinya.

Menurut kandungan ayat-ayat suci al-Quran manusia  pada hakikatnya adalah makhluk yang utuh dan sempurna yaitu sebagai makhluk biologis, pribadi, sosial, dan makhluk religius. Sedikit menilik tentang konsep psikologi yang menyatakan manusia sebagai makhluk biologis yang memiliki potensi dasar yang menentukan kepribadian manusia berupa insting. Manusia hidup pada dasarnya memenuhi tuntutan dan kebutuhan insting. Menurut keterangan ayat-ayat Al-Quran potensi manusia yang relevan dengan insthing ini adalah nafsu.

Manusia dalam Al-Quran disebutkan dengan menggunakan kata al-Insan, alBasyar, Bani Adam, dan An-Nas. Penggunaan lafadz al-Insan merujuk akan nama manusia yang ditinjau dari kelompoknya, atau secara keseluruhan, sedangkan kata al-Basyar diperuntukkan bagi manusia yang seorang diri, bukan dari kelompok. Selain dari itu, Bani Adam merupakan istilah yang digunakan Al-Quran untuk menyebut manusia yang dianalisis dari asal keturunannya dan kata an-Nas merujuk kepada manusia yang ditinjau dari segala permasalahan hidup yang dialaminya.

Pendapat lain tentang Al-Quran yang memberikan gambaran tentang manusia. Kata insan digunakan Al-Quran untuk menunjukkan kepada manusia segala totalitasnya, jiwa dan raga. Kemudian dari akar kata yang sama dengan basyar lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai basyar karena memiliki kulit yang jelas dan berbeda denga kulit binatang yang lain. Yang terakhir menggunakan kata bani adam dan dzuriyat Adam menunjukkan bahwa manusia yang terlahir sesudah ada pada dasarnya merupakan keturunan adam sebagai manusia pertama dan menjadi keluarga alam. Keadaan manusia laksana sebuah sayap malaikat diambil dan diikatkan pada ekor keledai sehingga keledai itu secara kebetulan juga menjadi malaikat berkat cahaya yang dibawa oleh malaikat itu. Demikian Rumi menggambarkan hakikat ganda dari manusia, suatu dualitas yang bukan terdiri dari badan dan jiwa melainkan kemungkinan-kemungkinan.

Konsep manusia ideal dalam al-Quran disebut dengan istilah Muhsin. Muhsin merupakan sebutan bagi manusia yang merasakan kehadiran dan kebersamadaan dengan Allah. Kekuatan spiritual ini melahirkan semangat melakukan perbuatan baik dan memperindahnya secara terus menerus serta membentengi diri dari perbuatan buruk yang berpotensi merusak eksistensinya baik dalam dimensi hubungan vertikal dengan-Nya maupun dalam dimensi hubungan horizontal dengan sesama makhluk.

Al-Quran juga menerangkan bahwa sejak awal fitrah manusia adalah beragama tauhid, sebelum melihat dunia ini manusia telah bersaksi akan keesaan Allah dan penerima kebenaran yang fitrah itu tidak akan pernah berubah. Selain itu, hakikat manusia adalah umat yang satu, akan tetapi setelah timbul perselisihan menjadi berubah yang kemudian Allah mengutus Rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan bagi manusia yang kerap kali melakukan perbuatan dosa.

Manusia dalam fitrahnya memiliki sekumpulan unsur surgawi yang luhur, yang berbeda dengan unsur-unsur badani yang ada pada binatang, tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa. Unsur-unsur itu merupakan suatu senyawa antara alam nyata dan metafisis, antara rasa dan non rasa (materi), antara jiwa dan raga. Allah Swt menjelaskan akan kemuliaan manusia di dalam Al-Quran yang ditentukan oleh jiwa manusia sendiri (akal, hati, rasio dan nafsu) dan petunjuk. Bukan hanya itu, diri manusia akan menjadi saksi atas dirinya sendiri di hari kiamat dan mempertanggungjawabkan perbuatannya selama di dunia.

Dari Al-Quran ditemukan banyak sekali ayat-ayat yang berbicara tentang kegiatan manusia yang selalu dikaiitkan dengan aktiftas malaikat. Para Malaikat selalu menunjukkan keterlibatannya dalam keseharian manusia. Kata kami dalam Qs Qaf/50: 16-18 pada kalimat, kami telah menciptakan dalam arti Tuhan bersama bersama ibu dan bapak karena ayat ini berbicara tentang reproduksi manusia.

Dalam al-Quran Adam,As diberikan kemuliaan. Allah Swt menegaskan bahwa, telah Aku ciptakan manusia dengan tangan-Ku sendiri dan Kutiupkan kepada-Nya Ruh-Ku. Allah menjadikan Adam,As sebagai khalifah-Nya di bumi dan mengajarkannya nama-nama segala sesuatu dan karena pengetahuan tersebut Adam,As ditempatkan di atas para malaikat.

Eksistensi manusia dalam al-Quran lebih ditekankan kepada kapasitasnya sebagai hamba (Qs al-Dzariyat/51:56), dan sebagai wakil Tuhan di muka bumi (Khalifah fil Ardh’)(Qs alAn‟am/6:165). Manusia adalah satu-satunya makhluk eksistensialis, karena hanya manusia yang dapat berubah derajatnya di sisi Allah Swt. Walaupun manusia merupakan mahluk ciptaan yang terbaik, namun tidak  dapat dipungkiri  bahwa jika manusia tidak taat menjalankan tugas dan kewajibannya akan terjerumus ke derajat yang paling rendah.

Pembaca yang budiman, apapun alasan rasional nalar otak manusia, namun keberadaan manusia di muka bumi dari kelahiran, eksistensi hingga datangnya kematian adalah iradah (kehendak) yang Maha Kuasa (Allah Swt) sebagai media untuk memasuki alam baru di hari kemudian (jannah). Maka sarana menuju kehidupan baru tentunya perlu penyaringan  untuk beradaptasi dengan (Dimensi kesucian); bersih dari dosa dan noda.

 

BAB IV

MENANTI  DATANGNYA SAKARATUL MAUT

(KEMATIAN)

 

Sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang ingin merenungkan perjalanan hidupnya. Bagi orang-orang yang berakal tentunya senantiasa merenungkan mengapa manusia menjalani fase kelahiran, masa bayi dan kanak-kanak, masa remaja dan dewasa, tua hingga akan meninggal.

Abdul Malik bin Muhammad bin Abdur Rahman Al-Qasim (1996:11) mengatakan bahwa sungguh sebuah peristiwa yang akan dialami oleh mukmin atau kafir, orang yang baik maupun jahat...laki-laki atau perempuan dan anak-anak maupun dewasa. Bahkan para Nabi dan Rasul pasti akan mengalami peristiwa serupa yang sangat menakutkan dan menegangkan apabila tidak memiliki iman dan membiasakan diri mematikan diri  sebelum datangnya kematian. Pada hakikatnya kematian itu pasti keras, pedih dan menakutkan. Tidak ada seorang pun yang dapat menolaknya seagaimana Firman Allah Swt antara lain menyebutkan:

“Katakanlah sesungguhnya kematian itu yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang  nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S.Al-Jumu’ah :8).

          Akhir kehidupan hanya satu, semuanya akan mati; Kullu nafsin dzaikatul maut; artinya: Semua jiwa akan merasakan mati.Hanya tempat kembalinya setelah itu berbeda. Segolongan masuk syurga dan segolongan masuk neraka (Q.S.As-Syuraa:7).Kematian adalah sebuah proses untuk kehidupan kembali, namun banyak ummat manusia dari berbagai golongan, suku bangsa tidak menghayatinya sehingga tidak memiliki kepedulian, walaupun Allah Swt telah berfirman: Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya (Q.S. Qaaf :19). Dalam kitab suci Al-Qur’an Allah Swt menyampaikan pula antara lain:

          Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan kepadanya, “siapakah yang dapat menyembuhkan dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan dengan (dunia) dan berbaut betis kiri dan betis kanan.Kepada Rabb-mulah hari itu kamu dihalau.”(Q.S. Al-Qiyamah:26-30).

          Pembaca yang budiman, apa yang akan terjadi setelah sakaratul maut? Tidak ada lagi tempat berlindung, dan tempat melarikan diri. Segala harta kekayaan, pangkat, jabatan, perkumpulan serta ikatan organisasi sebuah lembaga. Kembalilah ke jalan yang benar ! karena kematian adalah awal dari sebuah perjalanan panjang, melelahkan bagi yang membawa beban kesalahan sewaktu di dunia. Walaupun demikian dasyatnya, ada pula golongan Nabi, Rasul, Syuhada (sahabat Nabi), para alim ulama, masyakin dan akrabin yang selalu taat kepada Allah Swt setiap saat, waktu selama hidupnya di dunia merasakan singkatnya proses kematian menuju kebangkitan kembali setelah di kubur karena mereka (golongan ini) ditidurkan oleh Allah Swt tanpa merasakan siksa kubur.

          Abdurrahman Al-Qasim, Abdul Malik bin Muhammad bin (1996) Seluruh mahluk hidup dan mahluk tidak bernyata pasti akan mati atau mengalami kefunahan. Datangnya kematian atau misteri tentang kematian adalah salah satu fase yang akan dilalui setiap manusia. Dari masa kelahiran, masa kanak-kanak, remaja, dewasa hingga berusia tua.

          Rasulullah Saw memerintahkan agar setiap orang memperbanyak mengingat mati yang berbunyi: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu; kematian (HR.Tirmidzi).

Apapun jenis dan ragam pekerjaan, mulai rakyat jelata, tua, miskin, kaya raya, pengusaha atau konglomerat, para Nabi dan Raul,Sahabat Nabi, Ulama-ulama;kyai, guru-ustadz/ustadzah jika telah tiba saatnya datangnya kematian. Pastilah akan dirasakannya. Oleh karena itu, karena kedatangan ajal tidak seorang pun yang mengetahui maka diperlukan beberapa persiapan untuk amal sholeh secara maksimal antara lai sebagai berikut (1) Utamakan sholat 5 waktu sehari semalam secara berjemaah di mana adzan dikumandangkan (mushollah, langgar, surau, masjid atau dalam perjalanan yang dapat dikondisikan berdasarkan hukum fiqh atau aturan syariat.(2) Selalu menunjukkan kepada orang lain (nasihat-menasihati), (3) berbuat adil dan jujur demi kemanusiaan, (4) Mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri pribadi, (5) jangan mencampuri uusan yang berkaitan dengan perpecahan kaum keluarga atau ummat, (6) memiliki kecenderungan pada prosfek kehidupan akhirat dan kesementaraan dunia yang fana (7) hilangkan jiwa egois;menang sendiri dan menghancurkan orang lain demi kepentingan sendiri (8) Ingatla bahwa setiap pebuatan sekecil apapun akan dihisab/dihitung pada hari pembalasan.

          Raehanul Bahraen (2021) Mengapa banyak manusia yang lupa akan datangnya kematian?...Beberap penyebab sehingga  jutaan orang melupakan bahwa suatu saat akan dijemput oleh Malaikat Maut Izrail,AS, Diantaranya sebagai berikut:

1. Faktor Keturunan dari kedua orang tuanya

2. Faktor Pendidikan informal (keluarga) dan nonformal

3. Faktor Lingkungan tempat lahir, kecil, remaja, dewasa hingga  tua dan mati

4. Teman, keluarga, tetangga, atasan, bawahan, istri, anak, mertua, paman, dll.

5. Strata sosial (kedudukan) bangsawan, politikus, pegawai, petani, buruh, pengusaha, fakir-miskin, ustdaz-alim

6.Suasana kediaman (kauman, pusat kota, desa, pedalaman, di tepi pantai-laut, dll).

7. Penduduk sekitar kediaman;heterogen, homogen dari sudut pandang agama.

8. Peran Orang tua (ayah atau ibu) terhadap iman dan amal sholeh.

          Kedelapan faktor yang biasanya menyebabkan seseorang melupakan bahwa suatu saat akan datangnya kematian, pada akhirnya juga tergantung pada faktor hidayah atau ketentuan takdir dari Allah Swt. Berkaitan dengan faktor hidayah Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi ,Rh.a  (2006) menyebutkan: “ Bukanlah menghadapkan  wajah kalian kea rah Timur dan Barat, itu suatu kebajikan, tetapi kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, para Nabi, dan memberikan harta yang dicintai kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir,

 

BAB  V

ALAM KUBUR (ALAM BARZAKH)

Dahulu kuburan terkesan seram dan menakutkan. Setiap yang melewati akan merinding dan berdiri bulu kuduknya karena takut. Banyak kisah misteri mengenai kuburan; kuntilanak, pocong, jurig dsb. Kini kesan kuburan sudah mulai berubah, indah, warna-warni dihiasi bunga, bahkan dibangun rumah mewah yang terkesan nyaman, tenang dan tentram. Berlomba-lomba memesan kuburan mewah dengan berbagai fasilitas mewah laksana tinggal di hotel mewah adalah tren masakini.

Fenomena ini mencerminkan dua kutub ekstrim pemahaman masyarakat kita mengenai kuburan dan alam kubur. Satu sisi memahami bahwa kuburan adalah tempat yang penuh misteri dan angker sehingga banyak cerita mistis,  tahayul, khurafat dan cerita kemusyrikan mengenai kuburan.

Sisi lain memahami kuburan sebagai tempat peristirahatan terakhir yang tidak ada fase kehidupan lain setelahnya. Sikap seperti ini juga cerminian pemahannya mengenai kuburan dan alam kubur. Mengira bahwa kuburan secara fisik adalah alam kubur yang sama dengan pengalamannya selama hidup di dunia. Orang kaya yang bisa menikmati berbagai fasilitas di dunia memiliki persepsi bahwa di alam kubur bisa seperti itu juga. Dengan membeli fasilitas kuburan mewah beranggapan dapat menjalani kehidupan alam kuburnya dengan aman dan tentram pula. 

Alam kubur adalah alam yang dimasuki oleh setiap orang yang meninggal dunia, apakah ia dikuburkan atau tidak dikuburkan. Fir’aun misalnya, meskipun sampai sekarang masih utuh sebagai sebagai mummi yang disimpan di Museum Cairo Mesir, ia tetap berada dalam alam kubur.

Begitu juga jasad-jasad lain, baik yang utuh maupun yang hancur bagai tepung, mereka tetap memasuki alam kubur.

Alam kubur dikenal juga dengan sebutan Alam Barzah yang berarti pembatas antara alam dunia dan alam akhirat. Setelah seseorang memasuki alam kubur, ia akan ditanya oleh Malaikat Munkar dan Nakir tentang tuhan, agama, dan nabinya. Orang yang beriman akan menjawab: tuhanku Allah, agamaku Islam, dan nabiku Muhammad saw. Sedangkan orang yang tidak beriman atau orang yang ragu akan mengatakan tidak tahu, lalu ia akan disiksa. Selanjutnya yang menentukan bisa atau tidaknya seseorang menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur adalah iman dan amal shalehnya selama hidup di dunia. Setiap orang yang lulus dalam ‘ujian’ alam kubur akan merasakan kenikmatan, sebaliknya orang yang tidak lulus akan merasakan azab dan penderitaan. Bagaimana bentuk kenikmatan dan siksa yang akan dirasakan, tidak perlu kita bandingkan dengan apa yang didapat di dunia sekarang ini. Yang jelas, kenikmataan dan siksaan itu merupakan realitas yang harus kita imani. Nash-nash Al Qur’an dan sunah yang dijadikan dalil adanya pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir serta adanya kenikmatan dan siksa di alam kubur antara lain sebagai berikut:

Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat…” (QS. Ibrahim:27).

Rasullah Saw. menjelaskan mengenai ayat ini, yang dimaksud dengan “al-qaulu as-tsabit” adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad Rasulullah yang diberikan oleh seorang muslim di dalam kubur tatkala ditanya oleh malaikat. (HR. Bukhari dan Muslim).

“….Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang. Pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada malaikat): ‘Masukkan Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” Dalam ayat di atas, ada dua azab yang ditimpakan oleh Allah kepada Fir’aun dan kaumnya. Pertama, ditampakkan neraka pada pagi dan petang. Kedua, dimasukkan ke dalam azab yang sangat keras. Jika azab yang kedua dinyatakan setelah terjadinya kiamat, tentu azab yang pertama terjadi antara kematian dan kebangkitan, yaitu di alam kubur.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya jika seseorang telah diletakkan di dalam kuburannya dan ditinggalkan oleh teman-temannya, maka ia mendengar bunyi sandal mereka, maka saat itu ia didatangi oleh dua malaikat yang kemudian mendudukkannya dan bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang ini (maksudnya Nabi Muhammad saw)?” Seorang mukmin akan menjawab: “Aku bersaksi bahwa ia adalah hamba dan utusan Allah.” Lalu malaikat itu berkata kepadanya: “Lihatlah, tempatmu di neraka sana sudah diganti oleh Allah dengan tempat di surga, kemudian ia melihat kedua tempat itu. Adapun orang munafik dan kafir, ketika ditanya: “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” ia menjawab: “Saya tidak tahu. Saya hanya mengatakan apa kata orang saja.” Lalu dikatakan kepadanya: “Kamu tidak tahu dan tidak pernah membaca namanya?” Lalu ia dipukul dengan palu besi hingga menjerit kesakitan, yang jeritannya itu didengar oleh makhluk disekitanya, kecuali oleh manusia dan jin.” (Muttafaqun ‘alaih)

Alam kubur adalah fase alam akhirat pertama yang harus dilalui oleh setiap manusia setelah meninggalkan dunia. Mantan budak sahabat Utsman bin Affan meriwayatkan hadits, “Ketika Utsman radhiyallahu ‘anhu berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis tersedu-sedu sampai basah janggutnya. Lalu beliau ditanya, ‘Engkau mengingat surga dan neraka tetapi tidak menangis. Namun saat mengingat kubur, engkau menangis. Mengapa?’ Jawab beliau, ‘Aku mendengar Rasulullah Saw  bersabda, ‘Kubur adalah rumah akhirat pertama. Apabila seseorang selamat di kubur, maka setelahnya menjadi lebih mudah; namun apabila seseorang  tidak selamat dari siksa kubur, maka sesudah itu akan mengalami penderitaan yang berkepanjangan.’ Aku juga mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.’” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) Alam kubur juga mengalami kegelapan bagi yang tidak memiliki iman dan amal di dunia, sebagaimana sebuah riwayat bahwa seorang wanita yang biasa menyapu masjid Nabawi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia wafat dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun merasa kehilangan atas kepergiannya itu. Para sahabat menyampaikan bahwa wanita tersebut meninggal pada saat malam dan telah dikubur pada malam itu juga. Para sahabat tidak sampai hati mengingatkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lalu meminta beberapa sahabat untuk menunjukkan kuburnya. Setelah sampai di kubur wanita tersebut, beliau pun kemudian menyalati wanita itu, lalu bersabda, “Kuburan ini sungguh sangat gelap bagi para penghuninya. Allah azza wa jalla menyinarinya bagi mereka dengan salatku tadi.” (HR. Bukhari, Muslim, dll.)

                Menurut Muhammad Na’im Yasin dalam bukunya Al-Iman, hadits-hadits shahih yang menerangkan adanya azab kubur sangat banyak dan mencapai derajat mutawir.

Sementara kuburan adalah tempat jenazah dikuburkan, sedangkan alam kubur atau alam barzah adalah alam atau kehidupan yang akan dirasakan oleh setiap orang yang telah mati. Apabila iman dan amalnya buruk selama di dunia maka akan mendapatkan siksa. sebaliknya jika iman ada amalnya baik maka ia akan mengalami hidup yang aman, tenang tentram insya Allah, wallahu a’lam.

Ketenangan dan kesejukan hati semoga selalu menerangi hari-hari  sebagaimana  sabda Rasul Saw menceritakan hal tersebut.  Pada saat  seseorang ditanya dikuburnya dengan pertanyaan : “Apa pengetahuanmu pada pria ini (Rasul saw), maka jika ia Mukmin maka ia menjawab : “Dia Muhammad Rasulullah, diutus pada kami membawa penjelasan dan hidayah, maka kami menerimanya dan mengikutinya, Dia Muhammad, Dia Muhammad, Dia Muhammad. maka berkata malaikat : tidur istirahatlah wahai shalih, kami telah mengetahui bahwa engkau adalah orang yang taat  dalam menjalankan keimanan dan amalan sholeh. jika munafik maka ia menjawab : aku tidak tahu” (Shahih Bukhari).

Insya Allah setiap orang beriman akan dapat  menjawab walaupun tidak menghafalnya, sebaliknya para pendosa besar tidak mampu mengucapkannya walau ia telah menghafalnya di dunia.

Jika seorang hamba telah diletakkan di dalam kubur, datanglah kepadanya malaikat dalam bentuk yang menakutkan. Dalam hadits riwayat Al-Barra bin ‘Azib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lalu ia di datangi dua malaikat yang sangat kejam. Mereka membentak, lalu mendudukannya dan bertanya, ‘Siapa tuhanmu? Siapa nabimu? Apa agamamu?’ Ini adalah ujian terakhir yang menimpa seorang mukmin. Itulah makna firman Allah, ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia.’ Ia menjawab, ‘Tuhanku Allah. Agamaku Islam. Nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Tak lama kemudian terdengar seruan dari langit, ‘Hamba-Ku benar.’” Mengenai orang kafir, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Dua malaikat yang sangat kejam datang kepadanya. Mereka membentak dan mendudukannya, lalu bertanya, ‘Siapa tuhanmu?’ Ia menjawab, ‘Ha, ha…aku tidak tahu.’ Mereka bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’ Jawabnya, ‘Ha, ha….aku tidak tahu.’ Mereka bertanya lagi, ‘Apa pendapatmu tentang laki-laki yang diutus kepada kalian ini?’ Ia tidak mengenal namanya. Ketika dijawab Muhammad, ia berkata, ‘Ha, ha…aku tidak tahu.’ Lalu terdengarlah seruan, ‘Hamba-Ku dusta.’”

Hani’, budak Utsman bin Affan meriwayatkan hadits, “Ketika Utsman radhiyallahu ‘anhu berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis tersedu-sedu sampai basah janggutnya. Lalu beliau ditanya, ‘Engkau mengingat surga dan neraka tetapi tidak menangis. Namun saat mengingat kubur, engkau menangis. Mengapa?’ Jawab beliau, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kubur adalah rumah akhirat pertama. Bila selamat di kubur, maka setelahnya menjadi lebih mudah; bila tidak selamat dari kubur, maka setelahnya lebih sulit.’ Aku juga mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.’” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) Disebabkan fase setelah kubur lebih mudah bagi yang telah selamat, maka seorang mukmin dalam kuburnya, ketika melihat surga yang disiapkan Allah, mereka berkata, “Ya Tuhan, segerakanlah terjadinya kiamat agar aku tidak kembali ke keluarga dan hartaku.” Sedangkan orang-orang kafir, ketika melihat azab pedih yang disiapkan Allah baginya, berseru, “Ya Tuhan, jangan kau datangkan kiamat.” Karena yang akan datang setelahnya lebih pedih siksanya dan lebih menakutkan.

 Gelapnya Seorang wanita yang biasa menyapu masjid Nabawi pada masa Rasulullah Saw, lalu wanita tersebut  wafat dan Rasulullah Saw merasa kehilangan atas kepergiannya. Para sahabat menyampaikan bahwa wanita tersebut meninggal pada saat malam dan telah dikubur pada malam itu juga. Para sahabat tidak sampai hati mengingatkan Rasulullah Saw agar  meminta beberapa sahabat untuk menunjukkan kuburnya. Setelah sampai di kubur wanita tersebut, Nabi Muhammad Saw kemudian menyalati wanita itu, lalu bersabda, “Kuburan ini sungguh sangat gelap bagi para penghuninya. Allah azza wa jalla menyinarinya bagi mereka dengan salatku tadi.” (HR. Bukhari, Muslim, dll.)

Setelah mayit diletakkan di dalam kubur, maka kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun baik besar , kecil, soleh, maupun jahat dapat selamat dari himpitan kubur. Beberapa hadits menerangkan bahwa kubur menghimpit Saad ibn Muadz yang kematiannya membuat ‘arsy bergerak, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya. Dalam Sunan An-Nasa’I diriwayatkan dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Inilah yang membuat ‘arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur), akan tetapi kemudian dibebaskan.”

Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kubur memiliki himpitan yang apabila seseorang selamat darinya, maka (ia selamat sama seperti) Saad ibn Muadz yang telah selamat.” (HR. Ahmad).

Penulis kitab Al-Aqidah Ath-Thahawiyah berkata, “Hadits mengenai azab dan nikmat kubur, serta permasalahan mengenai pertanyaan malaikat di dalam kubur, hal tersebut berasal dari sumber yang mutawatir. Oleh karenanya, wajib untuk meyakini dan mengimani hal tersebut, dan kita tidak perlu memperbincangkan masalah caranya. Tidak ada otoritas bagi akal untuk memikirkan caranya, karena akal tidak dapat berhubungan dengan alam ini. Syariat tidak membawa sesuatu yang mustahil menurut akal, tetapi syariat terkadang membawa hal yang dianggap kontroversi bagi akal. Dalam kasus ini, kembalinya roh ke jasad janganlah dibayangkan menurut ukuran-ukuran duniawi; roh dikembalikan ke jasad dengan cara yang berlainan dengan yang ada di dunia.” Kalangan atheis dan orang-orang Islam yang mengikuti pendapat para filosof mengingkari adanya azab kubur. Mereka beralasan bahwa setelah membongkar kubur, mereka tidak melihat sama sekali apa yang diberitakan oleh nash-nash syariat. Mereka semua tidak mempercayai apa yang di luar jangkauan ilmu mereka. Mereka mengira bahwa penglihatan mereka dapat melihat segala sesuatu dan pendengaran mereka dapat mendengar segala sesuatu, padahal kita saat ini telah mengetahui beberapa rahasia alam yang oleh penglihatan dan pendengaran kita tidak dapat menangkapnya. Orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala akan membenarkan berita-Nya.

Di dalam Al-Qur’an terdapat isyarat-isyarat yang menunjukkan adanya azab kubur. “(Ingatlah) ketika orang-orang yang lalim (berada) dalam tekanan sakratul maut, dan para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), ‘Keluarkanlah nyawamu! Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangt menghinakan.’” (QS. Al-An’Am:93)

“Nanti mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (QS. At-Taubah: 101) “Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. Dikatakan kepada malaikat, ‘Masukanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.’” (QS. Ghafir: 46)

Imam Bukhari menjelaskan bahwa ayat pertama sebagaimana yang dikemukakan di atas membahas tentang malaikat yang mengazab orang-orang kafir pada saat sekarat. Ayat kedua menunjukkan adanya dua azab yang menimpa orang-orang munafik sebelum azab hari kiamat. Azab pertama adalah musibah yang ditimpakan oleh Allah di dunia dengan siksaan langsung, sedangkan yang azab yang kedua adalah siksa kubur.

Ayat ketiga merupakan argumentasi yang jelas bagi ahlu sunnah dalam menetapkan adanya azab kubur. Dalam ayat tersebut Allah menegaskan bahwa neraka ditampakkan kepada keluarga Fir’aun pada pagi dan petang sebelum hari kiamat, karena setelah itu Allah berfirman, “Dan pada hari terjadinya kiamat, dikatakan kepada malaikat, ‘Masukanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.’” Al-Qurthubi berkata, “Sebagian besar ulama berpendapat bahwa penampakan ini terjadi di alam barzakh. Ini merupakan landasan dalam menetapkan adanya azab kubur.”

Dalam hadits Anas disebutkan bahwa seorang mukmin setelah menjawab pertanyaan malaikat dengan benar di dalam kubur, dikatakan kepadanya, “Lihatlah tempat tinggalmu di neraka. Namun Allah Swt menggantinya dengan surga.” Ia melihat neraka dan surga. Qatadah berkata, “Ada riwayat bahwa kuburnya dilapangkan.” Dalam hadits Anas,Ra juga disebutkan bahwa orang kafir dan munafik setelah menjawab dengan salah di dalam kubur, dikatakan kepadanya, “Kau tidak mengetahui dan tidak mengikuti.” Kemudian ia dipukul dengan palu besi pada bagian di antara dua telinganya. Ia menjerit histeris hingga terdengar oleh yang disekitarnya kecuali manusia dan jin. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hutang adalah salah satu perkara yang dapat membahayakan orang yang telah meninggal di dalam kuburnya. Sa’ad ibn Al-Athwal menceritakan bahwa saudaranya wafat. Saudaranya itu meninggalkan hutang sebesar tiga ratus dirham dan sebuah keluarga. Sa’ad berkata, “Aku ingin menginfakkan harta tersebut kepada keluarganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku, ‘Sesungguhnya saudaramu tertahan karena hutangnya, maka pergi dan bayarlah hutangnya. Lalu aku pergi dan membayar hutangnya, kemudian aku datang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah membayar hutangnya kecuali dua dinar yang diklaim oleh seorang perempuan, sebab ia tidak memiliki bukti.’ Beliau menjawab, ‘Berikanlah, sebab ia berhak.’” (HR. Ibnu Majah, Ahmad, Baihaqi) Mempersiapkan diri sebelum menghadapi kematian merupakan faktor yang dapat menyelamatkan seseorang dari azab kubur, sehingga ketika maut datang secara tiba-tiba, maka kelak tidak akan muncul penyesalan dalam dirinya. Di antara persiapan menghadapi maut adalah segera bertaubat, menunaikan kewajiban dalam syariat, memperbanyak amal shaleh, memperbaiki akidahnya, berjihad, berbuat baik pada orang tua, menyambung silaturahim, dan amal-amal soleh lainnya yang dengan amalan tersebut Allah memberinya jalan keluar dari tiap kesulitan dan kesusahan.

Ibnu Taimiyah berkata dengan mengutip hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Abu Hatim dalam shahih-nya, “Sungguh orang mati dapat mendengar suara langkah kaki orang-orang yang pergi meninggalkannya. Jika ia seorang mukmin, maka shalat berada di dekat kepalanya, puasa berada di sebelah kanannya, zakat disebelah kirinya, perbuaan baik seperti berkata benar, silaturahim, dan perbuatan baik kepada manusia berada di dekat kaki. Ia lalu didatangi (oleh malaikat) dari arah kepalanya, maka salat berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi dari sebelah kanan, maka puasa berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi dari sebelah kiri, maka zakat berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Kemudian ia didatangi dari arah kedua kakinya, maka perbuatan baik, seperti berkata benar, silaturahim, dan berbuat baik kepada manusia, berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘duduklah.’ Ia pun duduk. Kepadanya ditampakkan bentuk serupa matahari yang hampir terbenam. Ia ditanya, ‘Siapa lelaki ini yang dulu bersama kalian? Apa komentarmu tentangnya?’ Ia menjawab, ‘Tinggalkan aku, aku ingin salat.’ Mereka menyahut, ‘Sungguh kamu boleh melakukannya, tetapi jawablah pertanyaan kami.’ Ia berkata, ‘Apa pertanyaan kalian?’ Mereka menanyakan, ‘Apa komentarmu tentang lelaki ini yang dulu bersama kalian? Apa persaksianmu terhadapnya?’ Ia menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa ia adalah utusan Allah, dan dia membawa kebenaran dari Allah.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Dengan dasar keimanan itulah kau telah hidup, dan dengan dasar itu kau telah mati, dan dengan dasar itu pula kau akan dibangkitkan, insyaAllah.’ Kemudian dibukakan baginya pintu surga, lalu dikatakan kepadanya, ‘Ini tempat tinggalmu di surga dan segala yang telah Allah siapkan untukmu.’ Ia bertambah senang dan gembira. Kemudian dibukakan pintu neraka, dan dikatakan, ‘Itu adalah tempat tinggalmu dan segala yang telah Allah siapkan untukmu (jika kau mendurhakai-Nya).’ Ia bertambah senang dan gembira. Kemudian kuburnya diluaskan seluas tujuh puluh hasta dan diterangi cahaya, jasadnya dikembalikan seperti semula, dan jiwanya dijadikan dalam penciptaan yang baik bagai burung yang bertengger di pohon surga.”

Fitnah dan azab kubur merupakan keadaan yang sangat besar, sehingga Rasulullah memohon perlindungan dari hal itu baik dalam sholat maupun di luar sholat. Beliau pun sangat menganjurkan kepada umatnya untuk memohon perlindungan kepada Allah dari segala fitnah dan azab kubur.

Sebagian kaum mukmin yang melakukan amal-amal besar atau tertimpa musibah besar akan terjaga dari fitnah dan azab kubur. Mereka di antaranya adalah:

1. Orang yang mati syahid.

An-Nasa’I meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, mengapa kaum mukmin diuji dalam kubur kecuali yang mati syahid?” Beliau menjawab, “Cukuplah baginya ujian kilatan pedang di atas kepalanya.”

2. Seseorang yang gugur ketika bertugas jaga (sebagai prajurit) di jalan Allah

Fadhdhalah ibn Ubaid meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda, “Setiap yang gugur akan selesai amalnya kecuali yang meninggal ketika bertugas jaga di jalan Allah. Amalnya terus tumbuh sampai hari kiamat dan ia akan aman dari fitnah kubur.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud) Ketiga, seseorang yang meninggal hari Jum’at. Dalam hadits Abdullah ibn Amru, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap muslim yang meninggal pada hari Jum’at akan dijaga oleh Allah dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi) Keempat, seseorang yang meninggal karena sakit perut. Abdullah ibn Yasar berkata, “Aku pernah duduk bersama Sulaiman ibn Shard dan Khalid ibn ‘Urafthah. Mereka menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang meninggal karena sakit perut. Keduanya ingin menyaksikan jenazahnya. Salah satunya mengatakan kepada yang lain, ‘Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Orang yang meninggal karena sakit perut tidak akan diazab di dalam kubur.’ Yang satunya menjawab, ‘Ya.’ (HR. An-Nasa’I dan Tirmidz).

Seorang penyair mengatakan:

Betapa banyak orang sehat mati tanpa sakit

Betapa banyak yang sakit justru hidup lebih lama

Biarlah dunia menghampirimu dengan sia-sia

Duniamu tiada lain laksana bayangan yang menaungimu, lalu lenyap tak berbekas

Setiap hari maut menebar kafan, sementara kita lalai akan kewajiban

Berikanlah pada dirimu taubat, sebelum kau mati dan mulutmu terkunci.

Terminologi, barzakh didefinisikan sebagai suatu alam yang terdapat diantara dunia dan akhirat, yang pada saat itu ruh manusia yang sudah meninggal dunia berada di alam tersebut untuk menunggu datangnya Hari Kebangkitan (yaum al-ba’ts), yang merupakan awal dari kehidupan akhirat. Dengan definisi ini, barzakh dimaksudkan sebagai suatu alam atau tempat yang merupakan terminal persinggahan ruh manusia setelah kematian, yaitu setelah ruh terpisah dari jasadnya. Di alam barzakh inilah ruh manusia berada dan menunggu sampai datangnya hari kebangkitan yang juga lazim disebut hari kiamat.

Setelah mayit dikubur, maka kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorangpun dapat selamat dari himpitannya. Beberapa hadiś menerangkan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Muadz Ra., padahal kematiannya membuat ‘arsy bergetar, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya. Imam an-Nasa’i meriwayatkan dari Ibn Umar Ra., bahwa Rasulullah Saw. bersabda :

Artinya: Inilah yang membuat ‘arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur), akan tetapi kemudian dibebaskan.” (HR. An-Nasa’i)

Di samping itu, kondisi alam kubur adalah gelap gulita. Rasulullah Saw.bersabda sehubungan dengan kematian seorang sahabat yang bisaa menyapu di masjid Nabawi sebagai berikut:

Artinya: Dari sahabat Abu Hurairah Ra.,bahwa seorang wanita hitam atau seorang pemuda yang bisaa menyapu di masjid Nabawi pada masa Rasulullah. Rasulullah Saw. ., tidak mendapatinya sehingga Nabi, menanyakannya. Para sahabat menjawab, ‘Dia telah meninggal’. Beliau Saw.  berkata kenapa kalian tidak memberitahukan   kepadaku?’   Abu Hurairah berkata, ‘Seolah-olah mereka meremehkan urusannya’. Beliau Saw. bersabda, ‘Tunjukkan kuburnya kepadaku’. Lalu mereka menunjukkannya, beliau pun kemudian menyalati wanita itu, lalu bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi para penghuninya, dan sesungguhnya Allâh Swt  menyinarinya bagi mereka dengan ṣalatku terhadap mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hani’ Ra,, bekas budak Utsman bin Affan Ra. berkata, “Kebisaaan Utsman bin Affan jika berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis sampai membasahi janggutnya. Lalu beliau ditanya, ‘Disebutkan tentang surga dan neraka tetapi engkau tidak menangis. Namun engkau menangis dengan sebab ini (melihat kubur), (Mengapa demikian?)’ Beliau, ‘Sesungguhnya Rasulullah Saw. ., bersabda, (yang artinya) ‘Kubur adalah persinggahan pertama dari (persinggahan-persinggahan) akhirat. Bila seseorang selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih berat darinya.’ Rasulullah Saw.juga bersabda, ‘Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.’” (HR. at-Tirmidzi dan ibnu Majah).

Adapun keberadaan ruh di alam barzakh akan terus seperti apa adanya, dan tidak akan hancur ataupun punah. Ruh manusia tetap eksis dan tidak akan hancur, karena ruh manusia itu ciptaan yang berasal dari ruh Tuhan. Oleh sebab itu, ruh dalam ajaran Islam ditegaskan tidak akan hancur dan akan terus ada, sebagaimana dijelaskan Allah dalam QS. al-Sajdah (32):9, QS. al-Hijr (15): 29, QS. Sad (38): 72, QS. al-

Anbiya’ (21): 91, dan QS. al-Tahrim (66): 12. Pada ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa setelah Allah menyempurnakan kejadian bentuk jasmani manusia, kemudian ditiupkan ke dalamnya ruh. Itulah sebabnya ketika kematian tiba, dan kemudian jasad manusia dikebumikan dan hancur, ruh tetap ada dan tidak akan punah.

Jika seorang hamba telah diletakkan di dalam kubur, dua malaikat akan mendatanginya dan memberikan pertanyaan-pertanyaan. Inilah yang dimaksud dengan fitnah (ujian) kubur. Dalam hadiś shahih riwayat Imam Ahmad dari sahabat al-Barro bin ‘Azib Ra., Rasulullah Saw.bersabda yang artinya: Kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya, lalu keduanya bertanya, “Siapakah Rabbmu ?” Dia (si mayyit) menjawab, “Rabbku adalah Allâh”. Kedua malaikat itu bertanya, “Apa agamamu?”Dia   menjawab:   “Agamaku   adalah   al-Islam”. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?” Dia menjawab, “Beliau utusan Allâh”.Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca kitab Allâh, aku mengimaninya dan membenarkannya”. Lalu seorang penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) benar, berilah dia hamparan dari surga, (dan berilah dia pakaian dari surga), bukakanlah sebuah pintu untuknya ke surga. Maka datanglah kepadanya bau dan wangi surga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”. Maka ruh orang Mukmin itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang saleh”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku akan kembali kepada istriku dan hartaku”.

Pertanyaan ini juga dilontarkan kepada orang kafir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi Saw., yang artinya: Kemudian ruhnya dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Sipakah Rabbmu?” Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”. Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?” Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”. Lalu penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka.” Maka panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah kabar yang menyusahkanmu ! Inilah harimu yang telah dijanjikan (keburukan) kepadamu”. Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat”.

Orang yang meninggal dalam keadaan husnul khatimah akan mendapatkan nikmat kubur, sementara yang meninggal dalam keadaan su’ul khatimah akan mendapatkan siksa kubur. Penjelasan tentang adanya nikmat kubur adalah firman Allah Swt dalam QS. Ali Imran : 169 berikut:

Artinya: Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (QS.Ali Imran [3]:169)

Barzah tidak hanya dikhususkan bagi para Nabi dan Rasul, syuhada dan orang mukmin saja, akan tetapi juga disediakan untuk para kafir yang membangkang seperti Fir’aun dan para pengikutnya, Allah Swt., berfirman dalam QS. Al-Mukmin ayat 45-46 berikut:

Artinya: Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang Amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. (QS. Al-Mukmin [40]: 45-46)

Ayat-ayat di atas dengan sangat jelas menginformasikan tentang adanya nikmat kubur yang diterima oleh para nabi, rasul dan seluruh orang yang beriman, ataupun siksaan yang akan ditimpakan kepada orang yang hidupnya dipenuhi dengan kemaksiatan dan kekufuran.

Di alam barzakh , manusia akan mendapatkan pertanyaan kubur, kesenangan atau kesulitan sesuai dengan derajat keimanannya. Alam barzakh merupakan tempat penyucian bagi orang-orang yang beriman untuk meringankan perhitungan mereka di akhirat (tasfiyah). Kondisi manusia di alam barzakh dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

Kelompok orang yang mendapatkan nikmat kubur adalah orang yang beriman dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah, dan orang-orang yang mendapatkan pengampunan dari Allah Swt. Inilah karunia bagi orang-orang yang soleh. “Jangan kamu kira orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, tapi sesungguhnya mereka hidup di sisi tuhan mereka dan mendapat rezeki.”(QS. Ali Imran [3]: 169).

Inilah siksa bagi orang-orang kafir, durhaka, berdosa, zalim, para tiran, dan semacamnya. “Kepada mereka ditayangkan neraka pagi dan petang, dan pada saat datangnya hari kiamat (ia berkata): “Masukkan keluarga Firaun dalam siksa yang paling berat.” (QS. Al-Mukmin [40]: 46)

Mereka seperti tertidur saja, dan tersentak ketika hari kiamat Ini adalah kondisi orang-orang yang melakukan maksiat dan dosa di dunia, tetapi tidak sebesar dosa dan maksiat yang dilakukan oleh kelompok kedua. “dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”. seperti Demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran). dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; Maka Inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya).” (QS. Al-Rum [30]: 55-56).

 

BAB  VI

ALAM  PENANTIAN DAN HISAB

          Pada saat bumi telah tua, saat perilaku seluruh ummat manusia telah mengalami kehancuran karena maksiat dan dosa, maka bencana setiap saat menghantui manusia, namun hanya beberapa gelintir orang yang ingin beribadah kepada Allah Swt. Kebanggaan harta, pangkat serta jabatan semakin menguasai dan menjadikan manusia berlomba-lomba mengejarnya, saat itu pula, keadaan alam semesta mulai enggan menjalankan perintah Allah Swt, berupa rotasi alam yang kita memburuk, angina kencang, suasana iklim kian menakutkan, maka kehancuran pun tiba.

Pada saat ini mestinya disadari dan direnungkan keadaan yang mulai mencekam. Bencana alam, gempa bumi di mana-mana menghantui seluruh ummat manusia.  Asrifin An Nakhrawie (2007:14) Tanda-tanda kiamatpun telah mulai terlihat. Haruskah manusia enggan terhadap peristiwa yang telah disampaikan oleh Allah Swt. Simaklah firman Allah sebagai berikut sebagai bahan renungan:

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya yang (dasyat) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya dan manusia bertanya;Mengapa bumi jadi seperti ini)? Pada hari itu bumi menceritakan kisahnya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya, Pada hari itu manusia akan keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) perbuatan mereka. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarrahpun nisacaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan nkejahatan sebesar biji dzarrahpun niscaya dia akan melihat (balasannya) pula.”(Q.S. Az-Zalzalah 1-8).

           Itulah gambaran hari kiamat yang menghancurkan alam semesta. Allah Swt menggambarkan tentang kedasyatan hari kiamat dengan goncangannya antara lain:

Sesungguhnya goncangan pada hari kiamat adalah kejadian yang sangat dahsyat.”(Q.S Al-Hajj:1). Oleh karena itu, 124.000 Nabi dan Rasul yang diutus ke dunia bertujuan untuk mengajak manusia taat kepada Allah Swt, mengikuti cara hidup pada Nabi dan Rasul sebagai tuntunan dan panutan (Maulana Ilyas, 1997).

          Setelah semuanya musnah, hanya tersisa Dzat Tunggal Allah Swt Sang Pencipta (Maha Hidup), seluruh permukaan bumi  merupakan padang hamparan luas yang sepi dan lengang, hening, namun di dalam perut bumi terdapat milyaran tulang-belulang manusia yang telah mati puluhan juta tahun yang lalu. Kemudian Allah menetapkan agar hujan turun selama 40 hari lamanya hingga air tergenang setinggi 12 hasta, lalu Allah Swt memanggil Malaikat Israfil, As untuk bersiap (berdiri) meniupkan sangkakala kebangkitan, maka Malaikat Israfil pun berkata:

“Wahai ruh-ruh yang telah keluar, tulang-tulang yang telah hancur, jasad yang telah hancur, kulit, otot, rambut yang telah hancur,...bangkitlah kalian untuk memenuhi keputusan Tuhan (Allah; Ahkamulhakimin). Maka secara serempak seluruh manusia bangkit dari kubur atau di aman mereka mati saat berada di dunia. Masing-masing mereka penuh keheranan dan kebingungan, mereka pun berkata bahwa bumi telah berubah dan diganti menjadi hamparan luas.

           Menurut  Husen Kambayang (2004:4) inilah golongan orang-orang yang sewaktu di dunia mengabaikan berita langit yang pasti, berita ngerinya kematian, berita tentang dahsyatnya kubur, padang mahsyar, dan terlebih lagi siksa neraka. Manusia secara perlahan-lahan berkumpul melalui gerakan dari masing-masing orang dihantui ketakutan karena keadaan manusia sebagaimana pada saat dilahirkan ibunya karena telanjang dan tidak memakai alas kaki. Berita ini pun pernah ditanyakan Aisyah kepada Rasulullah Saw, “Waduh,! Buruk sekali  keadaannya, bagaimana kalau sebagian mereka melihat sebagian yang lain?. Nabi Muhammad bersabda:”Pada hari itu semua orang tidak sempat memandang kepada orang lain, semua dari mereka memusatkan perhatian pada langit dengan berdiri selama 40 tahun. Seluruh manusia berkeringat ketakutan. Hanya Nabi dan para Rasul serta orang-orang beriman (rajin puasa) yang diberi makan dan minum. Cucuran keringat manusia hingga menggenangi telapak kaki manusia yang berkumpul saat itu.

           Pada saat manusia di dalam kubur dalam masa penantian yang sangat lama dan panjang, Allah Swt mengutus Malaikat Jibril,As untuk segera menemui Nabi Muhammad Saw untuk menyampaikan agar ummatnya berdo’a kepada Allah Swt dengan menyebut namamu sewaktu di dunia dalam menghadapi kesulitan. Maka Nabi Muhammad pun menyerukan kepada ummatnya dengan diawali dengan ucapan “Bismillahirrahmanirrahim”. Selanjutnya Allah Swt memberi keputusan hukum kepada semua mahluk dengan putusan; “Seandainya kalian tidak mengingati-Ku dengan menyebut nama tersebut, maka kemungkinan akan kupanjangkan keputusan ini hingga 1000 tahun. Maka dengan Maha Rahman dan RahimNya Allah Swt untuk mengadili semua manusia agar menegakkan keadilan; besar-kecil, berat-ringan, pahala-dosa semuanya akan dihisab (dihitung) sehingga tidak terdapat satu orangpun yang melepaskan diri dari mahkamah pengadilan (mizan).

           Suatu saat Rasulullah Saw pernah ditanya tentang makna yang terkandung dalam Surah An-Naba :18, “Ketika sangkakala ditiup, maka datanglah mereka berbondong-bondong). Rasulullah sesaat menangis dan menerangkan makna berbondong-bondong yang terdiri dari  ummatnya yang dikumpulkan menjadi 12 golongan. Keduabelas golongan tersebut adalah: (1)Golongan pertama adalah mereka yang berbentuk rupa seekor kera yang selalu memfitnah pada saat di dunia, (2).Golongan kedua adalah mereka yang berbentuk babi hutan karena suka memakan makanan haram, (3) Golongan ketiga adalah mereka yang buta dan kebingungan suka bersandar pada orang lain. Mereka suka melanggar hukum Allah dan tidak adil memutuskan perkara,(4) Golongan keempat adalah mereka yang tuli dan bisu mereka adalah orang-orang yang suka menyombongkan diri dengan amal perbuatannya,(5) Golongan kelima adalah mereka yang mulutnya selalu mengeluarkan nanah, menggigit-gigit lidahnya. Mereka ini adalah para ulama yang suka melanggar fatwanya,(6) Golongan keenam adalah mereka yang kulitnya terbakar api neraka karena bersaksi palsu dalam sebuah perkara, (7) Golongan ketujuh adalah mereka yang telapak kakinya berada di dahi karena diikat dijambul kepalanya, berbau bangkai. Golongan ini suka menuruti hawa nafsu pada hal-hal yang haram, (8) Golongan kedelapan adalah mereka yang mabuk berjatuhan, berguling kiri-kanan karena mencegah hak-hak Allah Swt, (9)Golongan kesembilan adalah mereka yang memakai celana dari timah karena suka membicarakan orang lain, (10) Golongan kesepuluh adalah mereka yang suka menjulurkan lidah karena suka mengadu domba, (11) Golongan kesebelas adalah mereka yang mabuk karena suka membicarakan masalah keduniaan (harta,pangkat,jabatan) di dalam masjid, (12) Golongan keduabelas adalah mereka yang mirip babi karena memakan harta riba.

          Dalam riwayat lain yang disampaikan Muadz bin Jabbal,Ra meriwayatkan bahwa keduabelas golongan dari ummat Muhammad Saw setalah bangkit dari kubur antara lain:(1) Golongan pertama tidak bertangan dan berkaki mereka suka menyakiti tetangga, (2) Golongan kedua seperti hewan melata yang melengah-lengahkan sholat, amal baik, (3) Golongan ketiga memiliki perut besar yang berisi ular dan kala jengking mereka enggan membayar zakat, (4) Golongan keempat mulut mereka keluar darah, api dan usus menjuntai dari mulut. Mereka suka bersaksi dusta dalam bertransaksi, (5)Golongan kelima berbau bangkai karena menyembunyikan maksiat dihadapan manusia dan tidak takut kepada Allah Swt, (6)Golongan keenam yang bangkit dari kubur dengan leher terputus karena mereka sering mengangkat sumpah palsu,(7) Golongan ketujuh adalah mereka yang tidak punya lidah dan mulut yang mengeluarkan darah dan nanah karena menolak memberi kesaksian yang benar, (8) Golongan kedelapan adalah mereka yang kakinya berada di atas  kepala serta kemaluan mengalirkan nanah yang kental karena berzina, (9) Golongan kesembilan adalah mereka wajahnya hangus, mata melotot dan perut berisi api karena memakan harta anak yatim dan mendzaliminya, (10) Golongan kesepuluh adalah mereka yang berpenyakit kusta dan kulit yang berbelang-belang karena durhaka kepada orang tua,(11)  Golongan kesebelas adalah mereka yang bergigi besar, mulut menjulur serta perut buncit karena senang minum khamar (alkohol),(12) Golongan keduabelas adalah mereka yang memiliki wajah bersinar bagaikan bulan purnama, melewati shirat secepat kilat, sholat tepat waktu dengan berjemaah, golongan ini selalu taat beribadah ke Allah Swt.

           Selanjutnya pada saat yang bersamaan matahari semakin mendekat di atas kepala dan secara tiba-tiba naungan yang melebar dan sejauh mata memandang terbagi menjadi 3 golongan manusia antara lain:

1. Golongan orang-orang mukmin dengan cahaya di atas kepala mereka

2. Golongan orang-orang munafik dengan api panas di atas kepala mereka.

3. Golongan orang-orang kafir dengan dengan asap hitam

          Dalam keadaan kebingungan ummat manusia yang sedang menanti pengadilan Tuhan menyeruh kepada Malaikat Jibril, As . Hai Malaikat Jibril,As dekatkanlah syurga kepada orang-orang yang bertaqwa dan tampakkanlah neraka jahim kepada orang-orang yang durjana. Maka dengan sekejap lintasan cahaya kilat melintaslah syurga di sebelah kanan Arsy dan neraka berada di sebelah kirinya. Kemudian secara serentak pula terpentang jembatan shirat di atas neraka.

           Nakrawie (2007) mengatakan tahapan berikutnya adalah  Allah Swt berfirman kepada semua mahluk yang lesu lagi kelelahan dan ketakutan dengan suasana mencekam akibat siksaan dan balasan perbuatan saat di atas permukaan bumi yang telah dirasakan. “Dimanakah  manusia pilihan-Ku; Adam?, dimanakah kekasih-Ku; Ibrahim, Dimanakah kalam-Ku; Musa? , Dimanakah Ruh-Ku; Isa?, Dimanakah kekasih-Ku Nabi Muhammad ?...Berdirilah kalian di sebelah kanan neraca (dacing timbangan/mizan). Setelah itu Allah Swt berfirman kepada Malaikat Ridwan,As.”Wahai Malaikat Ridwan, bukalah seluruh pintu syurga !, maka secepat kilat datanglah Malaikat Rahmat membawa segala menampilkan segala fasilitas. Wahai Malaikat Malik, bukalah seluruh pintu neraka!”, maka datanglah Malaikat adzab membawa belenggu dan rantai serta pakaian yang terbuat dari tembaga. Tidak berapa lama terdengar pula seruan yang menggelegar dan memenuhi seluruh mahligai jagat raya: “Wahai semua mahluk lihatlah pada neraca timbangan masing-masing diri...diiringi pula: lanjutan; Wahai penghuni syurga yang kekal abadi dan tidak pernah mati, wahai penghuni neraka yang kekal abadi dan tidak pernah mati.

 

BAB  VII

  TEMPAT KEDIAMAN TERAKHIR MANUSIA

 

Surga

          Mustafa Mahmud (2003),  Zuhair Hasan Hamidat (2006), dan MB Rahimsyah (t,th) menceritakan betapa indahnya keadaan di syurga. Selanjutnya dimanakah letak syurga? Allah Swt mengisahkan dalam sebuah ayat antara lain: Allah-lah yang menciptkan tujuh langit, dan seperti itu pula bumi (Q.S.Ath-Talaaq:12). Adapun beberapa pandangan ahli agama mengatakah bahwa: Langit pertama dihuni oleh manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda langit, seperti; bintang, planet, galaxy, supercluster, dan benda lainnya. Langik kedua dihuni; jin, serta mahluk halus lainnya. Langit ketiga, keempat, kelima, keenam hingga langit ketujuh yang merupakan tempat syurga dan neraka berada. Mulai langit pertama sampai langit ketujuh serba berdampingan/berdekatan tetapi tidak dapat dilihat karena masing-masing memiliki dimensi yang berbeda-beda.

          Rasulullah Saw sewaktu Isra’Mi’raj saat berada di Sidratul Muntaha sempat melihat syurga sebagaimana firman Allah Swt antara lain: “Di Sidratul Muntaha, didekatnya ada syurga, sebuah tempat tinggal (Q.S An-Najm:14-15). Mengapa manusia belum dapat melihat syurga? Dalam Al-Qur’an Allah Swt menjawab melalui firmanNya yaitu: “Dan apabila (batas-batas) langit  dilenyapkan. Dan apabila neraka Jahim dinyalakan. Dan apabila syurga didekatkan (Q.S At-Takwir:11-13).

          Arifin An Nakhrawie (2007) menjelaskan bahwa terdapat beberapa macam syurga antara lain sebagai berikut:

1. Syurga Firdaus

          Syurga Firdaus  terdiri dari 100 tingkat, syurga tertinggi dan berdekatan dengan Arsy Allah Swt. Dalam Al-Qur’an disebutkan dalam (Q.S.Al-Kahfi:107). Selain itu, siapakah yang berhak memasuki syurga Firdaus? Allah Swt menerangkan dalam firmanNya (Q.S Al-Mu’minun:9-11).

2. Syurga Adn

           Syurga Adn adalah syurga kedua setelah syurga Firdaus. Syurga Adn diperuntukkan pula bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.Jaminan untuk syurga And dapat dibaca pada (Q.S Al-Kahfi:30-31) dan (Q.S. Thaha:76).

3. Syurga  Na’im

            Syurga Na’im juga diperuntunkkan bagi orang-orang yang mengerjakan amal sholeh sebagaimana Firman Allah Swt dalam Q.S Lukman:8, dan Q.S. Al-Qalam:34.

4. Syurga Ma’wa

          Syurga Ma’wa juga masih tetap diperuntukkan bagi orang-orang yang mengerjakan amal sholeh dan sebagai balasannya diberikan syurga Ma’wa sebagaimana Firman Allah Swt dalam Q.S As-Sajdah:19, Q.S An Nazi’at:40-41.

5. Syurga Darussalam

          Syurga Darussalam diperuntukkan bagi mereka yang memiliki amal-amal sholeh yang mereka kerjakan. Dalam Q.S Al-An’am:127, serta orang-orang yang selalu memberi petunjuk pada jalan yang benar (kampung akhiraat;keselamatan) sebagaimana dalam Q.S. Yunus:25).

6. Syurga Darul Maqamah

   Syurga Darul Maqamah diperuntukkan bagi mereka yang selalu beriman dan beramal sholeh serta dapat dibaca dalam  Q.S. Fatrhir: 34-35,

7. Syurga Al-Maqamul-Amin

Demikian pula syurga al-maqamul amin diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh sebagaimana dalam Q.S Ad Dukhan:51.

8.Syurga Khuldi

Syurga khuldi dipersiapkan bagi orang-orang pilihan Allah Swt yang senantiasa mengabdi, taat merindukan pertemuan dengan Allah Swt sebagimana Q.S Al-Furqan:15.

          Allah Swt menjadikan syurga tentunya sebagai balasan bagi orang-orang yang sewaktu berada di atas permukaan dunia (bumi) senantiasa mematuhi petunjuk dalam kitab suci al-Qur’an yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul sebagai utusanNya, para alim ulama, kyai, ustadz, guru agama dan lainnya. Di dalam kitab suci Al-Qur’an telah termaktub firman Allah Swt antara lain:

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan Allah dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa (Q.S Ali Imran:133).

            Selanjutnya berapa tingkatan seluruh syurga yan g diciptakan Allah Swt? Dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad Saw bersabda bahwa:

“ Di dalam syurga ada seratus tingkatan yang disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang berjihad untuk membelaNya (agamaNya) dan diantara setiap dua tingkatan  adalah seperti antara langit dan bumi. Apabila kamu memohon kepada Allah, maka mohonlah kepadaNya syurga Firdaus, sebab ia adalah pertengahan syurga. Syurga yang tertinggi dan dan di atas arsy Ar-Rahman serta disitulah memancar sungai-sungai (HR.Bukhari)

                Deskripsi bahasa yang diungkapkan dalam Kitab suci Al-Qur’an antara lain dikisahkan sebagai berikut:

                Ternyata, para ahli surge  saat mereka memasuki tempat terindah ini dalam keadaan berambut pendek, wajah mereka mulus (tanpa bulu), bercelak, dan berusia tiga puluhan tahun atau tiga puluh tiga tahun.  Setiap dari para ahli surga mengenakan sebuah mahkota yang dihiasi dengan taburan mutiara. Dari berbagai mutiara itu, mutiara yang paling kecil punya daya sinar yang bila ditaruh di dunia ia bisa meninari seluruh permukaan bumi. Para ahli surga juga nampak bergelang. Andai saja salah satu dari mereka keluar dari surga kemudian gelang yang mereka kenakan terlihat, maka cahaya yang ditimbulkannya bisa menutupi cahaya matahari sebagaimana cahaya mentari yang mematikan cahaya rembulan.

                Dalam sebuah hadits Nabi pernah memberikan gambaran tentang karakteristik ahli surga sebagai berikut:

“Sesungguhnya kelompok pertama yang memasuki surge itu adalah mereka yang berwajah bagaikan rembulan. Kemudian menyusul debelakang mereka adalah manusia-manusia yang berwajah bagai bintang cemerlang yang cahayanya terang-benderang di langit. Sesungguhnya para ahli surge terbebas dari kebutuhan buang air kecil dan buang air besar atau tidak pula pernah meludah atau beringus. Sisir mereka terbuat dari emas. Keringat mereka menaburkan aroma wangi minyak kasturi. Perapian mereka adalah dari tangkai dupa yang harum. Istri-istri mereka adalah para bidadari yang bermata jeli. Para ahli surge mempunyai satu macam sifat sebagai satu orang saja, sedangkan bentuk rupa mereka semua adalah seperti ayah mereka, yakni Nabi Adam yang kegagahan tingginya ada empat puluh hasta lebih.”

                Ya, itulah surga. Jika pintu-pintu tempat ini telah dibuka, maka masuklah rombongan ahli surge yang pertama berwajah terang laksana bulan. Berikutnya cemerlang bak bintang yang bertebaran di kegelapan malam, indah dan sangat mempesona. Karakter hati mereka sama, tiada iri dan dengki, tak ada perselisihan antara mereka, apalagi permusuhan. Satu sama lain saling sayang dan mengasihi. Mereka sama-sama suka memuji, gemar memanjatkan tasbih dan tahmid kepada Allah saat kapanpun.

                Sungguh satu kenikmatan yang luar biasa. Mereka, para ahli surge itu tak pernah tersentuh rasa sakit, meski hanya sekedar lelah dan letih sekalipun. Yang mereka rasakan hanyalah vitalitas tubuh yang enerjik. Betapapun mereka tak perlu kencing dan berak.  Tidak pula mereka pernah buang angin. Para ahli surga  tidak pernah meludah dan mengeluarkan ingus yang menjijikan. Kesimpulannya mereka itu benar-benar makhluk sempurna yang terbebas dari derita sakit dan dari sesuatu yang menjijikkan. Tubuh mereka benar-benar bersih, bahkan hati mereka pun begitu suci, bebas dari akhlak-akhlak yang menodai kedudukan mereka sebagai ahli surge yang mulia.

                Allah SWT berfirman :

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berdiam didalam taman-taman surga yang ditengah-tengahnya ada mata air yang memancar. Kepada mereka dikatakan, “Masuklah kalian kedalam dengan aman dan sentosa” Kami (Allah) telah membuang segala sifat kedengkian yang ada di dalam hati mereka Sehingga mereka benar-benar sebagai saudara-saudara semata, mereka berhadap-hadapan di atas tempat duduk. Mereka tak pernah tersentuh oleh rasa lelah dan mereka tak pernah dikeluarkan dari tempat itu (Q.S.Al-Hijr:45-$8)

                Kepada para penghuni surga, Allah Swt berfirman, “Sungguh kalian hanya berangan-angan sedikit, serta ridha dengan apa yang menjadi bagian kalian dan lebih sedikit daripada hak kalian. Maka sungguh, aku telah mengabulkan segala apa yang kalian minta dan yang kalian inginkan, hingga kalian akan mengetahuinya sendiri, lalu aku akan menambahkan dalam keinginan-keinginan kalian yang sedikit itu. Kemudian lihatlah segala apa yang telah Aku persiapkan bagi kalian, segala apa yang tidak terjangkau oleh keinginan-keinginan kalian, dan belum terbesit dalam hati kalian”.

                Setelah itu serta-merta berdiri kubah-kubah ditempat yang sangat tinggi, dan juga telah di tinggikan kamar-kamar dari intan dan berlian. Pintu-pintunya semua terbuat dari emas, mimbar-mimbarnya terbuat dari cahaya, ranjang-ranjangnya terbuat dari permata yakud, kasur-kasurnya terbuat dari sutra yang halus, tebal dan hangat.

                Saat penghuni syurga berada didalamnya, teiba-tiba ada seorang utusan dari Allah untuk menyampaikan salam dengan membawa sebuah hadiah. Utusan itu kemudian berkata, “Wahai kekasih Allah. Sesungguhnya tuhan Anda menyampaikan salam dan memerintahkan kepada Anda agar menyantap hadiah ini”. Penghuni syurga itupun menikmati hadiah tersebut dengan kenikmatan yang tiada tara.

                Dalam syurga, Allah pun akan menyeru para ahli syurga dari nalik tabir, “Selamat datang wahai hamba-hamba-Ku, para tamu-Ku, tetangga-tetangga-Ku dan para utusan-Ku! Wahai para malaikat-Ku, segeralah persiapkan makanan kepada para hamba-Ku itu!”

                Kemudian para malaikatpun menghidangkan daging burung kepada mereka yang berbentuk seperti unta, tidak ada sehelai bulupun yang menempel pada burung itu, pun demikian tak ada tulangnya. Lantas ahli surge itu pun menyantapnya. Allah lalu menyeru lagi dari balik tabir, “Selamat datang wahai para hamba-Ku, para tamu-Ku, para tetangga-Ku, dan para utusan-Ku, makanlah kalian! Wahai para malaikat, berilah mereka minuman!”

                Serta-merta ada beberapa pelayan bangkit. Keberadaan mereka laksana permata yang berterbangan dengan membawa teko-teko emas dan minuman yang beraneka ragam. Kenikmatan minuman itu tiada tara, antar tegukan pertama dan tegukan terakhir sama nikmatnya.

                Allah kemudian menyeru lagi, “Selamat datang wahai para hamba-Ku, para tamu-ku, para tetangga-Ku dan para utusan-Ku, makan dan minumlah kalian dan nikmatilah buah-buahan.”

                Lantas, dihidangkan kepada mereka mangkok-mangkok berhiaskan permata yang berisi Rathab jinni, yakni sejenis kurma matang yang warnanya begitu putih melebihi putihnya susu, rasanya lebih manis ketimbang manisnya madu, juga sangat lezat mengungguli kelezatan semua jenis makanan di dunia. Al Qur’an melukiskan suasana itu :

                Mereka dikelilingi anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, ceret dan minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan”. (QS. Al Waqi’ah : 17-21).

                Keindahan yang terdapat didalam surge adalah sebuah keindahan yang hakiki. Panorama keelokannya bukan saja terletak pada aliran sungai-sungai yang sejuk, bukan saja terdapat pada kerindangan pepohonan yang menampakkan keteduhan, namun keindahan taman surge juga terletak pada keagungan arsitektur bangunan-bangunan megah yang terdapat didalamnya.

                Bangunan-bangunan rumah yang terdapat di dalam surga semuanya terbuat dari mutiara. Melihat kebesaran dan kemegahan bangunan itu layak disebut sebagai istana. Ya, sebagai istana yang secara khusus diperuntukkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang shalih. Sungguh megah dan indah bangunan istana itu. Didalamnya terdapat 70 ruangan yang terbuat dari permata yakud yang berwarna merah. Didalam setiap ruangan-ruangan itu masih ada 70 rumah yang terbuat dari permata zamrud yang berwarna hijau. Didalam setiap rumah itupun masih terdapat 70 ranjang. Di setiap ranjang ada sebuah kasur. Dan disetiap kasur terdapat satu bidadari yang bermata jeli.

                Didalam setiap rumah terdapat meja makan. Di atas setiap meja makan terdapat 70 mangkok ceper yang besar. Di setiap meja makan tersebutpun ada 70 pelayan laki-laki dan perempuan. Saat itu, Allah memberi kekuatan nafsu kepada para ahli surge itu hingga mereka kuasa menyantap habis makanan yang tersedia, sekaligus kuasa menggauli setiap bidadari bermata jeli secara bergiliran hanya dalam waktu satu pagi saja. Sungguh luar biasa!

                Bukan saja berupa istana, dalam syurga juga terdapat tenda-tenda. Tempat ini terbuat dari mutiara yang bergelombang. Luasnya adalah 3 mil x 3 mil, memiliki 4.000 daun pintu yang terbuat dari emas dan 70 pintu yang seluruhnya terbuat dari biji mutiara, panjangnya 60 mil. Di setiap pojok ada penghuninya berupa bidadari yang cantik jelita, putih bersih kulitnya. Sengaja para bidadari itu dipingit dalam tenda, mereka tak pernah melihat orang lain.

                Dalam syurga Allah pun menciptakan dipan-dipan yang memang khusus diperuntukkan bagi ahli syurga. Dipan atau ranjang ini tingginya adalah setinggi perjalanan 500 tahun. Tempat ini terbuat dari yakud merah, ditenun dengan batangan emas, dan dijalin dengan mutiara, yakud serta batu permata. Fantastisnya, ranjang-ranjang itu terdapat 70 kasur yang dipenuhi dengan gemerlap cahaya. Di bagian atasnya terdapat sutra tipis dan dibagian dalamnya ada sutra tebal. Andai kata bagian atasnya dihamparkan sebagai tempat tidur, niscaya hamparan itu tak akan selesai selama 40 tahun.

                Al Qur’an pernah memberikan deskripsi surge, bahwa tempat ini selain indah, ia adalah sebuah tempat yang teduh dan nyaman sebab ditumbuhi oleh pohon-pohon yang hijau dan rindang, sebagaimana yang tertera dalam ayat berikut:

                Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, kelak akan Kami masukkan kedalam syurga yang didalamnya mengalirsungai-sungai, mereka akan kekal didalamnya, didalamnya mereka juga akan punya istri-istri yang suci, dan kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi yaman.” (QS. An Nisa’ : 57). Selain itu Allah Swt menyampaikan dalam firmanNya antara lain: “Kedua syurga itu kelihatan hijau tua warnanya (Q.S. Ar-Rahman:64). Itulah gambaran sekilas yang disampaikan oleh Allah Swt. Selanjutnya Sabda Nabi Muhammad Saw mengatakan: “Dari Abu Hurairah Rasululah Saw bersabda: Tidaklah pohon di syurga melainkan batangnya dari emas” (HR.Turmudzi). Sedangkan Ibnu Abbas berkata bahwa; Batang sebuah pohon kurma di syurga adalah dari zamrud hijau dan ratingnya dari emas merah., daunnya dari bahan sutera hijau. Buahnya besar seperti kendi atau timba. Warnanya putih seputih susu, rasanya melebihi manisnya madu, lunak seperti lunaknya mentega serta tidak berbiji.

          Syurga dalam bahasa Arab disebut al-jannah yang mengandung pengertian taman. Umumnya taman-tamanyang indah selalu relevan dengan air sungai atau danau (pemandian). Maka tentulah kiranya bahwa di syurga disediakan sungai-sungai. Allah Swt berfirman tentang taman di syurga antara lain sebagai berikut:

“Apakah perumpamaan (penghuni) syurga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa yang didalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak bisa berubah rasa dan baunya. Sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamer (arak) yang lezat rasanya dari peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaringi, dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal di dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga terpotong-potong ususnya” (Q.S Muhammad:15). Selain itu, sebuah hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Hakim bin Muawiyahbin Bahzin dari bapaknya ia mendengar Rasulullah Saw  bersabda: “Sesungguhnya di dalam syurga ada sebuah lautan susu, lautan air, lautan madu, dan lautan khamer, kemudian sungai-sungai memancar dari situ”(HR.Ahmad).

            Selanjutnya bagaimana kriteria agar seseorang dapat masuk ke dalam syurga ?

Masduki Fairus (2001), Abu Khalid (2003), Labib MZ (t,th), dan Zuhair Hasan Hamida (2006) menyebutkan bahwa ; Beberapa ketentuan Allah Swt golongan orang-orang yang dijamin masuk syurga antara lain: (1) Orang yang beriman dan beramal sholeh, (2) orang yang bertaqwa, (3) Orang yang takut kepada Allah, (4) orang yang istiqomah, (5) orang yang berjihad di jalan Allah, (6) orang yang berbakti kepada kedua orang tua. Lebih jelasnya akan dikemukakan secara terperinci sesuai Firman Allah Swt sebagai berikut:

1. Orang yang Beriman dan Beramal Sholeh

          “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara dan pakaian mereka adalah sutera.”(Q.S. Al-Hajj:23).

           Dalam surah yang lain dikemukakan pula:

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan beramal sholeh, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam surge-surga itu, mereka mengatakan; “Inilah yang pernah dijanjikan kami dulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.”(Q.S. Al_Baqarah:25).

           Dalam ayat yang lain juga ditemukan:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surge yang penuh kenikmatan. Do’a mereka di dalamnya adalah: “Subhanakallahumma, “ dan salam penghormatan mereka adalah. “Salam”. Dan penutup do’a mereka adalah; “Alhamdulillahi rabbil alamin.” (Q.S.Yunus:9-10).

2. Orang yang Bertaqwa

           Selain orang-orang yang beriman dan yang beramal shalih, Al-Qur’an menyatakan bahwa orang-orang yang akan menempati surge kelak adalah mereka yang termasuk dalam kategori orang-orang yang bertaqwa (muttaqun). Hal ini jelas sekali dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya :

           Artinya :

           “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam surge (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (dikatakan kepada mereka), “Masuklah kedalamnya dengan sejahtera lagi aman”. Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah didalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya”. (QS. Hijr : 45-48)

          Dalam ayat lain juga ditegaskan hal yang sama :

          Artinya :

          “Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhan-Nya di bawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surge itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal didalamnya”. (QS. Az Zumar : 73)

           Dua ayat diatas kiranya sudah cukup dijadikan sebagai kesimpulan bahwa surga kelak akan diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa. Namun persoalannya sekarang adalah siapakah yang disebut sebagai “orang yang bertaqwa” itu? Apakah setiap muslim (orang Islam) bisa dekategorikan sebagai muttaqun (orang bertaqwa)?.

           Tentu tidak! Terminologi taqwa oleh kebanyakan ulama khalaf didefinisikan sebagai “Imtisalu awamirillah wajtinabu nawahihi sirran wa alaniyyah”, yakni; senantiasa melaksanakan semua perintah perintah Allah, sekaligus pada saat yang bersamaan juga menjauhkan diri dari segala larangan-larangan-Nya dimanapun dan kapanpun. Inilah taqwa. Dengan demikian yang disebut sebagai muttaqun adalah mereka yang muslim yang senantiasa menjalankan segala perintah Allah sekaligus mau meninggalkan semua hal yang jelas-jelas dilarang oleh-Nya. Jika ada seorang muslim yang tak mau melaksanakan perintah bahkan melakukan larangan, siapa yang berani mengatakan dia muttaqun?.. Jangankan yang seperti itu, sedangkan muslim yang menjalankan perintah namun tak meninggalkan larangan masih belum bisa disebut sebagai muttaqun, apalagi yang enggan beribadah namun malah berglimpangan dengan dosa. Mereka bukan muttaqun meski mereka seorang muslim. Mereka sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat diatas bukanlah orang-orang yang akan mewarisi surga!.

          Allah Sw berfirman: “ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan  dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang muttaqun, yaitu; orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amanahnya dan memaaftkan (kesalahan). Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang mengerjakan perbuatan keji atau aniaya terhadap diri sendiri, maka mereka ingat Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah, dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka adalah ampunan dari Tuhan dan surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya. Dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (Q.S.Ali Imran:133-136).

           Adapun kriteria orang-orang bertaqwa (muttaqun) antara lain:

1. Orang-orang yang maun menafkahkan sebagian harta bendanya.

2. Orang-orang yang sanggup menahan amarahnya.

3. Orang-Orang yang memberi maaf orang yang berbuat salah kepadanya.

4. Orang-orang yang selalu mengerjakan kebajikan.

5. Orang-orang selalu beristigfar di awal, pertengahan dan akhir setiap perbuatan.

6. Orang-orang yang selalu bertobat.

          Orang yang selalu khauf (merasa takut) karena mengharap perlindungan dari Allah Swt dalam sepanjang hidupnya.

3. Orang yang Takut kepada Allah

            Ketakutan terhadap ancaman Allah Swt termaktub dalam kitab suci Al-Quran antara lain: “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadapi TuhanNya  ada dua surga. Maka nikmat Tuhanmu manakah  yang kamu dustkan? Kedua surga itu mempunyai pohon-pohon dan buah-buahan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S Ar-Rahman:46-49).

4. Orang yang Istiqomah

            Dalam Al-Quran Allah Swt berfirman: “ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (Q.S Fushshilat: 30).

5.Orang yang Berjihad di Jalan Allah

           Di dalam kitab suci Al-Quran Allah Swt berfirman antara lain: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan menggembirakan mereka dengan memberinya rahmat dari padaNya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya surga yang kekal.”(Q.S At-Taubah:20-21).

6. Orang yang Berbakti kepada Orang Tua

          Berkaitan dengan orang-orang yang berbakti kepada kedua orang tua Allah Swt berfirman antara lain: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, Ibunya mengandungnya dengan susah payah,dan melahirkannya dengan susash payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah 30 bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai 40 tahun ia berdo’a; “Ya, Tuhanku tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada nak cucuku.Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”(Q.S Al-Ahkaf:16).

          Lima calon orang-orang yang memasuki surga dengan keridhaan Allah Swt antara lain:

1. Orang yang beriman dan bertaqwa serta berbakti kepada kedua orang tua.

2. Orang yang selalu bersyukur atas nikmat karunia dari Allah Swt dalam keadaan susah atau senang.

3. Orang selalu bertaubat.

4. Orang yang selalu bertawakkal kepada Allah Swt.

           Orang-orang yang masuk surga tentunya tidak akan disia-siakan oleh Allah Swt atas penderitaan, kesengsaraan, kekurangan dalam berbagai fasilitas kehidupan. Seberapa besar, istiqomah (rutinitas) orang-orang dalam menjalankan perintah dan larangan dari Allah Swt, demikian pula balasan dari pada-Nya.

Neraka

            Apabila Allah Swt  menciptakan hunian (tempat tinggal) terakhir bagi manusia di hari kemudian terhadap abalasan bagi mereka yang taat (beriman dan beramal saleh) tentunya Allah Swt menciptakan pula neraka (seburuk-buruk tempat kembali). Adapun jumlah neraka antara lain sebagai berikut:

1. Neraka Jahannam

2.Neraka Jahim

3. Neraka Hawiyah

4. Neraka Wail

5. Neraka Syair

6.Neraka Ladha

7. Neraka Saqar

8. Neraka Huthomah

           Kata Neraka berasal dari ; “A Nar” yang mengandung pengertian api. Tentunya secara rasional bahwa neraka merupakan tempat yang selalu mengandung kobaran; jilatan api yang panas dan mendidih.

           Allah Swt berfirman dalam Al-quran antara lain: “ Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minum selain air yang mendidih dan nanah sebagai balasan yang setimpal.”(Q.S.An Naba:23-26). Pada surah dan ayat yang lain dapat pula ditemukan (Q.S.Ad-Dukhan:47-46),dan (Q.S.Al-Haqqah:36-37), (Q.S.Al-Hajj: 19), (Q.S.Al-Mu’min:71-72), dan (Q.S Al-Haqqah:32).

           Kesimpulannya semua fasilitas dari tempat tinggal, rumah, makanan-minuman, pohon, buah-buahan terbuat dari api yang panas, cairan timah panas, dan lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Al-Qasim, Abdul Malik bin Muhammad bin.1996. Al Anfas Al Akhiroh; Diterjemahkan oleh Shodiq Kholidy; Dasyatnya Menjelang Ajal. Solo: Pustaka Barokah.

Ahmad, A. Abdurrahman dan Fauzan Al-Makki.1998. Fadhilah Ummat Muhammad Saw.Cirebon: Pustaka Nabawi.

Amrullah, Abdulmalik Karim (Hamka). 1982 Tafsir Al-Azhar, Jakarta:Pustaka Panjimas.

Ahmad,Abdurahman. 2010. Kupas Tuntas Jamaah Tablig, Bandung: Pustaka Nabawi.

Abdushshamad, Muhammad Kamil. 2003. Mukjizat Ilmiah Dalam Al-Qur’an, Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.

An-Najah, Zain. Hidayatullah.com.2023 M/1444H.Proses Penciptaan Langit dan Bumi.

 

Arrad Asy Syahri, Salih bin Ali Abu.1418. Rasaail Tarbawiyah diterjemahkan oleh: Abu Naoval; Mutiara Nasihat; Menuju Pribadi Muslim Ideal.At-Tibyan Solo.

Al Qasim, Abdul Malik bin Muhammad. 1421 Addunya Dhillun Zailun;Diterjemahkan oleh: Syamsuddin T. Jakarta: darul Falah.

Al.Razi, Fakhruddin.t.th. Mafatih Al-Ghaib, Beirut: Dar al-Ihya.

Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Ilyas  (1350 H) & Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi. 1997. Fadhilatul Tabliigh, Diterjemahkan oleh Abdurrahman Ahmad, Yogyakarta.

Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Yusuf. 2007. Kitab Ta’lim Hayatush Shahabah Jilid 1 Firman Allah Swt dan Sabda Rasulullah Saw Mengenai Dakwah Sempurna Para Sahabat Ra,

Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakariyya. 2006.  Fadha’il Sedekah, Diterjemahkan oleh: Ali Mahfudzi, Yogyakarta: Ash-Shaff.

Al-Mahdalie, Rabi bin Hadi Umair. 2002.  Cara Para Nabi Berdakwah, Tegal: Maktabah Shalafi Press.

AS, Abdul Mujieb.T.th. Tujuan Hidup dalam Pandangan Islam, Surabaya: Karya Utama.

Asy, Maftuh Ahnan dan Fairuz Masduqi.2001. 10 Manusia yang Dipastikan Masuk Neraka. Surabaya Terbit Terang.

Ancok, Djamaludin dan Fuat Nashori Suroso.1995. Psikologi Islam Solusi Islam atas Problem problem Psikologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Anshari, Endang Saifuddin.1983. Wawasan Islam Pokok-pkok Pikiran Islam tentang Ummatnya, Bandung: Pustaka ITB.

Azra, Azyumardi dan Abudin Nata. 2008. Kajian Tematik Al-Quran tentang Konstruksi Sosial, Bandung: Angkasa.

As Shouwy, Ahmad. 1995. Mukjizat Al-Quran dan As-Sunah tentang IPTEK, Jakarta: Gema Insani Press.

An, Nakhrawie, Asrifin.2007. Indahnya Surga Pedihnya Neraka, Surabaya:Iktiar.

Baiquni, Achmad. 1996.  Al-Qur’an Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Jakarta: Dana Bhakti Prima Yasa.

Bahraen, Raehanul.2021. Salah Kaprah dalam Mengingat Kematian.Artikel. Muslim.or,id

Bucaille, Maurice. 1989. Asal Usul Manusia menurut Al-Quran Bibel dan Sains, Bandung: Mizan.

Fayumi, Badriyah. 2001.  Keadilan dan Kesetaraan Gender Perspektif Islam, Jakarta: Depag RI.

Firdaus, Slamet.2011.  Konsep Manusia Ideal dalam Al-Quran, Tanggerang: Makmur Abadi.

Gojali, Nanang. 2004. Manusia Pendidikan dan Sains dalam perspektif tafsir Heurmenetik, Jakarta: Rineka Cipta.

Halim, Muhammad Abdul. 2002. Memahami Al-Quran Pendekatan Gaya dan Tema, Bandung: Marja. 

Hadhiri, Choiruddin. 1994. Klasifikasi Kandungan Al-Quran, Jakarta: Gema Insan Press.

Hamidat, Zuhair Hasan. 2006. Melihat Indahnya Syurga, Sukoharjo: Insan Kamil.

Haque, Ziaul. 2000.  Wahyu dan Revolusi, Yogyakarta: Lkis.

Khalid, Abu. 2003. Menyingkap Tabir Rahasia Hidup Sesudah Mati, Surabaya: Gali Ilmu.

Katsir, Ibnu.  1436. Al-Bidayah Wa An-Nihayah (Ringkasan dan Terjemahan:Insan Kamil) Dar Alam Al-Kutub

Kambayang, Husen Usman. 2004. Misteri Derita Abadi. Terbitan I; Bandung.

Kementerian Agama RI. 2012. Penciptaan Manusia dalam Perspektif al-Quran dan Sains, Jakarta: Kemenag, RI.

Muhammad Al-Qasim bi, Abdul Muhsin, t.th. Langkah Pasti Menuju Bahagia. Surakarta: Daar An-Naba.

Mutahari, Murtadha. 1997. Perspektif Al-Quran tentang Manusia dan Agama, Bandung: Mizan.

Mustafha, Mahmud.2003. Berkunjung ke Syurga dan Neraka, Jakarta: Cendekia.

Musthafa, Ahmad.1987.  Tafsir al-Maraghi, Semarang: Thahaa Putra.  

Nashih Nashrullah.(2020) red.Republika.Co.ID.www.republika.co.id.berita.

Nasution, Andi Hakim.1989.  Pengantar ke Filsafat Sains, Bogor:Litera AntarNusa.

Praja, Juhaya S.2000. Tafsir Hikamah Seputar Ibadah Muamalah, Jin dan Manusia, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rahman, Fazlur. 1996. Tema Pokok Al-Quran, Bandung: Pustaka.

Rahayu, Iin Tri. 2009. Psikoterapi Perspektif Islam dan Psikologi Kontemporer, Malang: UIN Malang Press.

Rohimsyah, MB. T.th. Taman Syurga. Surabaya: Karya Ilmu.

Ruqoyyah.Com (dalam Muhammad Abduh Tuasikal tentang; Arsy itu Mahluk Pertama; 29 April 2020/ diunduh 10 Januari 2023.

Sayani, Musthafa.T,th. Ringkasan Enam Sifat Sahabat. Bandung: Pustaka Ramadhan.

Shaleh, Abdul Rahman. 2009. Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, Jakarta: Kencana.

Shihab, M. Quraish. 2007.  Mukjizat Al-Qur’an, Bandung: Mizan Pustaka.

Shihab, M Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah, Jakarta: Lentera Hati.

Shihab, M. Quraish.2012. Al-Lubab, Tangerang: Lentera Hati.

Shaleh, Abdul Rahman. 2009. Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, Jakarta: Kencana.

Shihab, M. Quraish. 2010. Malaikat Yang Halus dan Tak Terlihat dalam Al-Quran, Jakarta: Lentera Hati, 2010

Umar,Nasaruddin. 2001. Argumen Kesetaran Gender Perspektif Al-Quran, (Jakarta: Paramadina.

Yahya, Harun .2002. Pesona Al-Quran, Jakarta: Rabbani Press.

Yahya, Harun. 2004. Al-Quran dan Sains, Bandung: Dzikra.


Komentar